Pura-pura Baik-baik Saja

Pura-pura baik-baik saja
Ilustrasi: (Doc. Internet) 

Setiap fase usia memiliki tantangan dan situasinya sendiri. 

duniahalimah.com--Ketahuilah pura-pura baik-baik saja itu sangat melelahkan. Bagaimana tidak lelah, jika setiap saat harus berdrama pada tiap-tiap orang yang ditemui. Termasuk pada kaca rias saban hari. 

Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih untuk bersikap pura-pura. Bisa karena tidak ingin merepotkan orang sekitarnya atau khawatir dianggap lemah. Alhasil berpura-pura menjadi solusi. 

Memilih berpura-pura baik-baik saja adalah hak setiap individu. Tentu setiap pilihan akan selalu ada konsekuensi di belakangnya.

Berdasarkan pengalaman hidup seperempat abad ini, ada banyak situasi yang sebenarnya tidak mudah. Berusaha terlihat baik-baik saja, tidak lagi menangis layaknya usia kanak-kanak dan remaja. 

Semacam ada tuntunan yang mengarahkan agar bermental baja, tidak peduli dengan cibiran, dan kegagalanMengaku lemah seperti sebuah pantangan. Begitu juga dengan menangis seperti sebuah aib.

Sebetulnya, ketika dipahami lebih mendalam, tidak ada yang memaksa kita untuk bersikap begitu. Sebuah buku yang saya baca mengatakan yang membuat kita lelah adalah kata "harus". 

Harus begini dan begitu. Padahal tidak ada yang salah dengan perasaan sedih, kecewa, merasa gagal. Semua itu wajar dan manusia tidak sempurna. Menyitir guru saya seorang psikolog mengatakan "Perasaan itu divalidasi dan pikiran dikritisi."


Baca Juga: Energi Positif untuk Menyembuhkan Diri Sendiri


Terkadang saya menganalisis diri sendiri, apakah karena menjadi seorang pengajar sehingga tidak elok untuk menunjukkan sisi sedih? Atau karena sudah bertambah usia sehingga tidak ingin membuat orang lain iba. 

Membicarakan sedih, jadi teringat dengan situasi beberapa tahun lalu. Tepatnya ketika rebana ditabuh, lalu tari sufi dimulai, dan syair-syair itu saya baca. Air mata bercucuran tanpa berpikir malu akan dicemoh. Sangat mudah sekali untuk menunjukkan rasa sedih. 

Sangat jauh berbeda dengan usia sekarang. Kala perasaan sedih muncul,  diam menjadi pilihan dan istirahat dengan dunia maya. Entah apakah ini disebut lebih dewasa atau sudah bisa mengontrol emosi. 

Saya menyadari satu hal, situasi seperti itu hanya diketahui sepenuhnya oleh yang mengalami. Orang lain tidak akan pernah tahu atas apa yang dirasakannya. Kecuali jika mengatakannya, meski antara cerita sangat berbeda dengan perasaannya. 

Ya, pura-pura baik-baik aja itu memang capek, tetapi  juga perlu untuk belajar sebagai pertimbangan agar orang lain tak sedih karenamu. 

Kalaupun masih belum bisa jujur pada orang lain tentang situasimu, setidaknya belajar untuk jujur dengan diri sendiri if you not okay

Kemudian peluk dirimu sendiri...

Pada intinya kembali ke diri masing-masing apakah akan terus berpura-pura baik-baik saja atau jujur, minimal pada cermin saat kamu berkaca di pagi hari.

Terima kasih sudah membaca celoteh ini...

Baca Juga: Terapi Cinta sebagai Pengganti Obat

#duniahalimah




Post a Comment

0 Comments