Prestasi Tidak Hanya Sertifikat dan Piala

Ilustrasi: (sumber: internet)


duniahalimah.com—Selepas azan Isyak, saya menyempatkan waktu untuk memeriksa grup mantan pemilihan Duta Penggerak Literasi Indonesia. Saya katakan mantan, karena grup itu berisi beberapa orang yang terpilih dan tidak terpilih menjadi Duta Penggerak Literasi. Meski pengumuman lolos seleksi akhir telah diumumkan di Instagram resmi, anggota grup sepakat tidak keluar.

Barangkali inilah salah satu keuntungan yang didapat, meski tidak lolos mendapat relasi yang luas. Bagaimana tidak disebut luas, pesertanya berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Sangat menarik dan rata-rata usia mereka masih sangat belia. Bahkan saya sendiri merasa paling tua. Namun, tidak masalah. Selagi mendapatkan teman baru, rasanya sangat bahagia.

Grup yang semula diberi nama Duta Penggerak Literasi dialih nama menjadi 3P Literasi (Pemuda Pemudi Peduli Literasi). Nama ini dipilih berdasarkan usulan saudara Ekoaswandi dan dia juga yang mengganti foto profilnya.

Baca Juga: Jadi Juara Butuh Perjuangan


Mari kembali dengan cerita selepas azan Isyak.

Salah satu anggota grup meminta saran kepada anggota lainnya tentang kegagalan yang kerapkali dialaminya. Ia beranggapan bahwa dirinya sudah menyiapkan sebaik mungkin. Tidak hanya itu, ia mengaku dikelilingi oleh circle yang selalu merendahkan ketika ada orang yang gagal. Hal tersebut menjadi sebab ia takut akan kegagalan.

Setelah itu, anggota yang lain bermunculan untuk mengomentari anggota yang meminta saran ini. Ada yang menyarankan untuk memanfaatkan kelebihan, ada yang menyemangati dan menganjurkan untuk dekat kepada Allah, ada yang menyarankan untuk menyeimbangkan deskripsi kekurangan dan kelebihan, hingga mendapatkan saran untuk memperbaiki CV dan Motivation Latter.

Memandang persoalan ini, kepala saya seperti biasa, akan melanglang buana. Saya pikir tidak sesingkat itu permasalahannya. Saran dan masukan dari anggota lain memang bagus, tetapi jangan lupa setiap orang memiliki kasus berbeda dan mestinya perlu tahu lebih dalam mengapa ia takut ketika gagal.

Di tengah-tengah minta saran, anggota itu bercerita bahwa ia minim prestasi dan pernah menjadi ambassador. Seketika wangsit memenuhi kepala dan tangan gatal untuk segera menulis status di bawah ini.

“Halo kamu yang hari ini masih merasa minim prestasi. Coba ingat kembali  kemenangan-kemenangan yang kamu dapatkan selama ini. Prestasi tidak hanya soal kamu kepilih jadi duta dan menang juara 1 lomba. 

Kamu bisa melewati masa-masa paling sulit dalam hidup, itu juga prestasi. Kamu bisa menghormati orang tuamu itu juga prestasi. Prestasi maknanya tidak hanya soal deretan piala dan sertifikat.”

“Prestasi versimu dan versi orang lain emang beda. Supaya kamu enggak insecure, ya buat definisi prestasi menurut versimu sendiri. Masih ingat kan? Orang bijak ngomong, “Proses setiap orang berbeda-beda. 

Nah, kalau beda buat apa mengukur prestasi orang lain dengan prestasimu. Kupikir meluuruskan soal pemaknaan prestasi sangat penting demi merawat mentalmu sendiri. Ya, tapi itu terserah kamu.”

Baca Juga: Jangan Pernah Lelah Berproses


Tidak disangka, apresiasi dan afirmasi dilayangkan oleh teman-teman pembaca story di WA. Kadang kita itu memang begitu, menganggap prestasi hanya soal lolos menjadi duta atau juara 1 mengikuti lomba. Jika dikaji ulang, makna prestasi tidak sesempit itu. Memang ketika di hadapkan dengan administrasi pemilihan duta, ambassador, mendaftar kuliah, kenaikan pangkat, beasiwa, dan melamar pekerjaan, akan diminta melampirkan prestasi yang tertulis di atas kertas. Sebagai tanda bahwa seseorang itu berprestasi.

Namun, ketahuilah tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan namanya tertulis di sertifikat, piala, dan SK. Orang-orang yang demikian, kebanyakan akan menganggap dirinya tidak berprestasi, lalu merasa insecure. Kemudian, dia akan membandingkan “Kenapa dia bisa, sedangkan aku enggak bisa?’ “Aku enggak punya prestasi” bahkan berani mengolok dirinya sendiri. Alih-alih gagal lalu menjadi semangat, yang terjadi malah membuatnya semakin terpuruk, naasnya sampai ada yang berani mengakhiri hidup karena gagal dengan impiannya.

Saya menuliskan kelanjutan dari story WA di blog ini tentu tidak memiliki tanggungjawab apa pun terhadap kamu yang sedang merasa tidak memiliki prestasi. Akan tetapi, saya merasa perlu memberikan saran agar kamu menjaga kesehatan mental dengan memberikan definisi prestasi menurut versi sendiri.

Kata orang bijak, jika kamu gagal ya bangkit lagi. Gagal adalah hal biasa. Bagaimana akan dikatakan menang jika tidak ada kata gagal. Berkat gagal kita akan belajar, bahwa proses menuju kemenangan butuh perjuangan.

Selamat berjuang!!

 Baca Juga: Kenyataan Tidak Sesuai Harapan

Post a Comment

0 Comments