Pertemuan Pertama dengan ASDOS Menyisakan Cerita

Foto Bersama Asdos 

duniahalimah.com—Bulan September 2021 Saya berkesempatan menjadi asisten dosen (ASDOS) Prof Tohir di mata kuliah Experiential Learning. Berkat menjadi asisten inilah pada hari Rabu 29 Juni 2022 bertemu dengan teman-teman baru. Jika ditanya bagaimana gambaran perasaan di hari itu. Rasanya di luar ekspektasi. Mengingat, di hari yang sama masih memperjuangkan persoalan tesis.

Dari kampus menuju Resto Joss Gandos, Saya menyewa jasa Grab. Tidak butuh waktu yang begitu lama, kira-kira 10 menit sudah sampai di lokasi. Kemudian, Saya bertemu dengan asisten dosen Mas Toni yang sedang menunggu di depan resto. Lalu Ia menanyakan nama, mengingat ini pertama kalinya bertemu. Setelah itu, ia mengarahkan Saya ke ruang VIP.

Tampak di ruangan itu, ada seorang Bapak dengan outfit kemeja putih, kopyah hitam, dan sedang menerima telepon. Saya mengira inilah Prof Tohir, mengingat selama ini belum pernah bertemu secara offline. Namun, terlihat berbeda antara online dan offline. Alhasil Saya memilih duduk di meja sebelah, sembari menunggu Prof selesai menerima telepon. 

Tidak lama kemudian, datanglah kawan-kawan yang lain. Lalu acara sore itu segera dimulai. Semua orang menyimak penjelasan dari Prof dan sangat disayangkan, Saya tidak sempat mencatat dan merekam apa yang Ia bicarakan. Hanya beberapa  hal yang Saya ingat, ketika menuliskannya sekarang.

Prof Tohir mengucapkan terima kasih banyak kepada kami “para asisten” yang telah membantu perkuliahan. Ia pun sempat bercerita bagaimana kehidupannya dulu saat menjadi volunteer penelitian sampai ke pelosok-pelosok Indonesia. Berkat pengalaman dan pembelajaran dari senior terdahulu, akhirnya bisa menjadi bekal di masa sekarang.

Ia sekarang mendapat amanah baru sebagai Dekan sekaligus Guru Besar. Menurutnya, inilah bagian dari bermanfaat, hikmat, dan maslahah kepada masyarakat. Di manapun berada menurutnya seseorang harus menjadi pribadi yang bermanfaat untuk sekitar, terutama keluarga. 

Prof juga sempat meminta doa, agar bisa menjalankan amanah dan semoga di antara Kami kelak mengikuti jejaknya menjadi guru besar. Sontak Kami mengaminkan apa yang diharapkannya.

Baca Juga: Kekuatan Doa Mampu Menyembuhkan

Setelah sesi berdoa, dilanjutkan dengan foto bersama. Sesudah itu, Prof mohon undur diri dan Kami bertujuh bersiap-siap melahap hidangan yang telah tersedia di meja panjang itu. 

Beragam lauk pauk, nasi, buah, dan teh tertata rapi di meja. Sebelum makan, Kami berinteraksi untuk mengenal satu sama lain. Seusai makan pun, bincang-bincang terus berlanjut hingga tidak terasa Maghrib bertandang.

Pertemuan hari itu, Saya hanya mengenal satu orang karena ia satu UKM dulu, tapi yang lain baru kenal. Namun anehnya, terasa seperti kenal lama. Barangkali inilah yang disebut “vibrasi yang sama”. Kami berharap pertemuan ini menjadi pijakan langkah selanjutnya dan tetap berkomunikasi.

Obrolan lari kemana-mana; mulai dari soal tugas akhir, menanyakan alamat masing-masing, perihal UKM, membicarakan tentang dosen, dan pastinya sangat asyik. Hingga tiga orang dari Kami memilih pulang lebih dulu. Sehingga sisa empat orang, kemudian satu orang undur diri dan tersisalah tiga orang. Lagi-lagi masih berbincang dan akhirnya Kami memilih pulang.

Kesan di hari itu “luar biasa” karena tidak sekadar makan, tapi juga kebersamaan, dan semangat yang sama untuk lebih baik di masa depan.

Baca Juga: Pelajaran Tadi Siang, Mengapa Perlu Reuni?


Post a Comment

0 Comments