Ketika Manusia Sibuk Membuat Kenangan

Ilustrasi: (foto: internet) 

duniahalimah.com—Kadang, kita seringkali sibuk membuat kenangan dibandingkan menikmati keadaan sekarang.  Perihal inilah yang kami perbincangkan di dalam mobil kemarin (24/11). 

Sebagaimana hari biasanya ketika ke kampus, tiada satu hari pun tanpa membahas apa pun selama perjalanan. Mulai dari bercerita tentang hal remeh hingga membahas persoalan manusia yang tiada habisnya.

Salah satu perbincangan--yang bagi saya menarik--tentang kesibukan kebanyakan orang yang memilih membuat persiapan kenangan dibandingkan menikmatinya. 

Maksudnya, ketika sedang bertandang ke suatu tempat, bukannya menikmati apa yang sedang di depannya malah lebih sibuk mendokumentasikannya. Lalu tujuan merekam momen itu hanya untuk dilihat kembali di hari setelahnya.

Baca Juga: Lihatlah Sesuatu Lebih Dalam

Apakah ini salah? Tentu sangat relatif penilaian ini, akan tetapi setiap kita bisa mempertanyakan pada diri sendiri. Apakah dengan sibuk merekam momen bisa membuat kita menikmati  dengan kesadaran penuh? 

Saya pikir tidak akan sepenuhnya hadir di situasi itu. Mengapa dikatakan demikian? Sebab hal tersebut terjadi karena tidak mindful atau tidak “sadar utuh dan hadir penuh.”

Seseorang yang mengimplementasikan hidup sadar utuh dan hadir penuh akan mendapatkan banyak manfaat darinya. Salah satunya bisa membuat seseorang berhenti diet tapi tetap memiliki tubuh sehat. 

Baca Juga: Jangan Membuat Masalah Kecil Menjadi Besar

Seorang creator yang bergelut di dunia terapi juga menyebutkan bahwa hal itu dapat membuat seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang sehat.

Bukan hanya itu saja, di dalam agama Islam juga diajarkan tentang khusuk ketika beribadah. Maksudnya memfokuskan seluruh komponen dalam diri hanya fokus kepada Sang Pencipta saja, bukan pada selain-Nya. 

Penjelasan khusuk ini sejalan dengan "sadar utuh dan hadir penuh." Meskipun demikian, nyatanya cukup sulit untuk sadar utuh dan hadir penuh menjalaninya.

Pertanyaannya? Apakah bisa? Tentu bisa dengan cara terus menerus berlatih. Jika belum bisa, it’s okay tidak masalah, perlahan saja. Bahkan dalam salah satu penjelasan dalam keilmuan tasawuf menyebutkan “kekhusukan sendiri berasal dari Allah” artinya hak preogratif Allah. 

Lantas apakah sebagai hamba tidak berikhtiar? Ya harus dibersamai dengan usaha.

Kembali kepada pembahasan awal, tentang hidup sadar utuh dan hadir penuh. Hidup yang ideal tidak hidup di masa lalu atau di masa depan, tetapi sadar dengan sekarang. 

Bukankah dengan memikirkan masa lalu dan masa depan membuat masa sekarang hilang tanpa berbekas. Tiba-tiba sudah sampai rumah, tiba-tiba sudah sampai di kantor, tiba-tiba salat sudah sampai salam. Ya, kita suka begitu bukan?

Wallahu’alam

Baca Juga: Segera Berdamai Jika Ingin Hidup Bahagia


x

Post a Comment

0 Comments