Sebuah Refleksi di Malam Hari

Merenung
Ilustrasi: (Sumber: internet)

duniahalimah.com--Malam ini (6/9), entah mengapa sejenak terdiam sembari mendengarkan suara piano dari saluran YouTube. Seperti dibawa menelusuri setiap keindahan panorama di layar YouTube. Pantai terhampar luas dengan di kelilingi pepohononan rindang. Terlihat perahu layaknya hiasan, menambah kecantikan video itu.

Seketika memori di kepala menangkap ingatan tentang ucapan seorang guru, “Yang membuat diri kita tidak tenang ialah karena banyak pikiran.” Banyak pikiran membuat seseorang menjadi khawatir, cemas, sedih, menyesal, dan respon lainnya. Situasi yang dipikirkan tidak terlepas dari "yang sudah" dan "yang bakal terjadi."

Padahal kedua situasi yang ada pada pikiran tesebut bukan terjadi sekarang. Sebab terlalu fokus pada masa lalu dan mendatang, alhasil mengabaikan kehidupan saat ini.

Idealnya, kata para ahli, kita perlu sadar utuh hadir penuh "saat ini" atau disebut mindful. Jangan sampai, raga berada di masa kini, tetapi pikiran berkelana  ke masa lalu dan masa depan sehingga mengabaikan “saat ini.” Sekarang adalah waktu berharga untuk digunakan sebaik-baiknya.

Jika ada seseorang memutuskan untuk menyadari "saat ini" maka keadaan dirinya menjadi tenang. Sadar apa yang dilakukan, dirasakan. Saya mengamini pesan guru itu, berdasarkan pengalaman yang telah lalu. 


Baca Juga: Menyembuhkan Sakit Hanya dengan Sentuhan


Ketika merangkai tulisan ini, saya merasa jauh lebih tenang dibandingkan dua tahun lalu dengan segala dramanya. Pandemi, kuliah online, semakin membantu perkembangan quarter life crisis dalam diri. Namun, tidak rugi mengalami kondisi itu. Seandainya tahun itu tidak mengalami fase krisis seperempat abad, mungkin tugas akhir di strata dua mustahil selesai.

Malam ini, tanpa kawan untuk berdialog, hingga memutuskan menulis segala yang ada di pikiran dan perasaan. Apalagi sudah lama tak mengunggah tulisan di blog. Berharap coretan ini bisa menjadi bagian sejarah, kalau diri pernah berada pada kondisi sekarang.

Rasanya sangat bersyukur mendapati keadaan, walaupun setiap harinya ada banyak situasi tidak dapat diprediksi. Terkadang power berada di puncak, kadang pula berada di garis terendah. 

Bukan masalah besar, karena sejatinya kehidupan manusia memang begitu. Ada saat di mana bahagia sekali, sedih, kecewa, khawatir, takut, ya itu normal.

Emosi
Ilustrasi: (Sumber: internet)

Semester ini, mengampu mata kuliah kecerdasan emosi dan spiritual. Sebuah mata kuliah baru yang meminta diri ini untuk berkelana dari satu sumber ke sumber lain. 

Meski baru, saya menyadari satu hal bahwa setiap emosi di dalam diri kita adalah hal normal. Apabila ada sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai,  kemudian tangan otomatis mengepal, panas menjalar ke ubun-ubun, itulah pertanda emosi beraksi.

Orang yang memiliki kecerdasan emosi, tidak akan langsung membabi buta, tetapi dia akan membaca situasinya baru bertindak. Ia sangat pandai menempatkan diri, karena dirinya sadar dalam hidup bersosial ia tidak sendirian melainkan ada orang lain yang juga memiliki perasaan.

Saya pikir, apa yang diri ini pelajari memiliki relevansi dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan saat menulis refleksi ini, pikiran dan tangan saya mencoba mengait-ngaitkan banyak situasi. 

Entahlah, apa yang saya tulis malam ini. Yang jelas, saya ingin menuturkan apa yang sekarang sedang dirasakan. Sebagaimana awal digagasnya blog ini menjadi media refleksi diri sendiri. Jika sesuai bisa diambil, kalau tidak silakan abaikan saja. 

Terima kasih sudah membaca celoteh seseorang yang tengah merefleksi diri sebelum terlelap.


Baca Juga: Terapi Cinta sebagai Pengganti Obat


#duniahalimah 

Post a Comment

0 Comments