13, 14, 15, 16, 17 AGUSTUS

LALU LALANG TAK PERNAH HENTI

Oleh Nurhalimah

Lalu lalang
Begitu banyaknya
Seperti pasukan semut
Sedang bergerilya

Sangat rapi
Tak jarang jalan-jalan
Tak cukup dilalui
Berbaris tapi berhenti

Setiap hari
Setiap kali
Terjadi
Tak pernah henti

Asap dihasilkan
Menyeruak
Taburkan racun
Serang tubuh

Canggihnya otak manusia
Berdampak pada dirinya
Tak pernah dikira
Apalagi diduga
Surabaya, 13 Agustus 2018



HANCUR TERBAKAR
Oleh Nurhalimah
Saat riak gelombang melaju
Membawa riuh-riuh gelisah dalam jiwa
Serasa hampa tak berdaya
Hidup seakan tanpa siapa-siapa

Jiwa seakan hancur
Lebur tak bisa disentuh
Apalagi dibentuk
menjadi sesuatu

Mata makin sendu
Menanggung sendu melaju
Tak mau tahu
Kehilangan senyum di bibirku

Hancur luluh tak berdaya
Luluh lantak
Hancur
Terbakar di sana
Surabaya, 14 Agustus 2018


KISAH MALAM SURAMADU
Oleh Nurhalimah
Deburan ombak melaju
Menerjang, menghantam batu-batu
Bintang gemintang bertaburan
Sembari ejawantah senyuman

Perahu-perahu ditali
Takut hilang ditelan air
Lalu lalang kendaraan di atasnya
Sembari nikmati deburan ombak sepanjang jalan

Di tepi berjejer kedai-kedai kopi
Berisi penikmat-penikmat setia
Menikmati kopi di pinggir pantai
Malam hari

Angin pantai menelisik
Menyeruak
Mendekap kulit-kulit telanjang
Tanpa busana
Lumajang, 15 Agustus 2018


SERAMNYA KEHIDUPAN

Oleh Nurhalimah

Suara jangkrik membahana
Pecahkan suasana
Malam semakin larut
Terkatup gelap kabut

Gelap menyelimuti
Ruang-ruang dalam bumi
Tak ada cahaya lampu mengisi
Kecuali lampu teplek menghiasi

Tangis bayi meraung-raung
Meminta asi ibunya
Popoknya basah
Minta segera diganti yang baru

Malam berselimut gelap
Sepi tiada lalu lalang kendaraan
Jauh dari peradaban
Lampu-lampu saja tak disediakan

Zaman kebodohan
Zaman dibodohkan
Tak ada sekolahan
Hanya bercocok tanam

Angin berhembus menelisik kulit
Menyusup, membaur
Tak mau ampun
Kulit hanya berpakai karung goni

Nasib-nasib
Anjing-anjing melolong
Pecahkan sepi
Gariskan seramnya kehidupan

Lumajang, 16 Agustus 2018-08-17



MASIH TERASA
Oleh Nurhalimah
Tinggal goresannya
Masih terasa
Dalam tubuh beta
Meski sudah lama

Pelupuk mata membengkak
Tangis mengisi ingatkan memori yang tersusun rapi
Tak mungkin kembali

Sudah terlampau pergi
Malu kembali
Untuk mengobati keretakan
Memperbaiki puing-puing berantakan

Foto-foto kenangan
Jadikan saksi perjalanan
Pertama berkenalan
Di pojok kedai kopi idaman

Bibirmu tersenyum
Mata berbinar
Ejawantahkan keajaiban
Sekali-kali kucuri pandang

Degap-degup tak karuan
Tapi hanya ingatan
Yang tak pernah terulang
Meski sebentar


Lumajang, 17 Agustus 2018







Post a Comment

0 Comments