Menjadi dewasa barangkali memang tidak terlalu mudah, apalagi jika dibandingkan dengan tahap perkembangan sebelumnya. Meski demikian, saya menyadari setiap fase kehidupan memiliki tantangannya masing-masing.
Tantangan pada setiap tahap perkembangan sejatinya tanda bahwa kita sedang menuju ke tahap berikutnya—layaknya ujian naik kelas.
Ketika mulai memasuki fase baru, memang terasa sulit. Namun, perlahan kita akan mulai terbiasa dan akhirnya mampu melaluinya. Saya pun demikian. Di usia lebih dari 10k ini, saya belajar tentang tiga hal berikut;
Slow progress is still progress
Dulu, saya berpikir progres itu harus selalu berupa hal yang besar dan menekan agar hasilnya maksimal. Nyatanya, alih-alih membawa pada hasil yang diinginkan, justru menjadikan diri tertekan dan tidak menikmati prosesnya.
Terburu-buru dan khawatir, seakan-akan ketinggalan kereta. Padahal tidak ada satu pun yang memberikan target. Bila progresnya berjalan lambat, hati gelisah dan merasa bersalah.
Namun, setelah bertumbuh sekian tahun, akhirnya mengerti. Ternyata, bergerak lambat pun dinilai berproses. Berjalan lambat bukanlah kegagalan yang bisa dijadikan alasan untuk menghakimi diri sendiri.
Jadwal yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, hasil yang tidak sesuai harapan, tidur lebih awal, dan mimpi yang tidak tercapai, itu juga tidak apa-apa. Pada usia ini, mulai belajar berwelas asih dan lebih peka terhadap kebutuhan diri sendiri. Seperti memberikan waktu untuk diri sendiri, tidur lebih awal, membatasi diri dengan gawai, mematikan media sosial, dan melanjutkan pekerjaan esok hari.
Baca Juga: Jadi Sang Juara Butuh Perjuangan
I am not in competition with anyone
Maksudnya, saya tidak sedang berlomba dengan siapa pun.
Dulu, saya melihat rumput tetangga jauh lebih hijau, segar, dan indah. Sampai-sampai terlena dan tidak menyadari halaman sendiri. Padahal, halaman rumah sendiri rumputnya mulai bertumbuh tebal, bunga-bunganya bermekaran, dan sejuk bila dipandang. Sayangnya, karena lebih fokus melihat halaman tetangga, apa yang dipunya menjadi tidak terlihat. Kira-kira itulah metafora yang pas untuk menggambarkannya.
Seiring bertambahnya usia, saya belajar tentang melihat halaman sendiri. Halaman yang barangkali orang lain juga ingin memiliki. Lebih menyadari bahwa setiap orang memiliki garis mulai dan selesainya sendiri-sendiri. Mengingat garis mulai dan selesainya berbeda, tentu tidak perlu lagi merasa tertinggal.
I'm just growing at my own pace
Artinya saya sedang bertumbuh dengan ritme saya sendiri.
Setiap orang memiliki ritmenya sendiri. Tidak perlu membandingkan dan merasa tertinggal. Selama terus berjalan dan berprogres, maka akan sampai juga.
Teruntuk kamu yang hari ini tengah berada di fase yang tak mudah itu. Pelan-pelan mari mulai lebih fokus pada dirimu sendiri. Lebih peduli dan sayang pada dirimu sendiri.
Peluk erat-erat untuk kamu yang tengah berjuang hari ini.
Baca Juga: Dibalik Suksesmu Juga Ada Orang Lain
Juga ikuti saya di: https://www.instagram.com/duniahalimah_/

0 Comments