BELAJARLAH DARI LINGKUNGAN, MENGAPA?

Sumber: wscdn.bbc.co.uk

           Penulis sendiri cukup mengamini dengan ungkapan kebanyakan orang “Buka mata, buka hati, di situlah kamu akan belajar arti kehidupan”. Kini penulis cukup sadar dengan apa yang terjadi di sekitar kehidupan penulis. Mulai dari kemiskinan, kekayaan, kekurangan, perpolitikan, dan seterusnya, penulis temui itu.
Terkadang penulis sempat menitikkan air mata melihat keadaan yang ada di bawah (rakyat biasa) jauh dari keadaan yang di atas. Mungkin bagi sebagian orang hal seperti itu tentu hal yang biasa, namun bagi penulis hal ini merupakan hal yang tak biasa.
Bagaimana kita akan mengatakan biasa, jika rakyat kita ternyata masih ada saja yang kekurangan, tak bisa sekolah, dikucilkan, bahkan belum mendapatkan haknya sebagai rakyat. Betapa miris rasanya.
Mungkin penulis sendiri selama ini masih buta dengan keadaan sekeliling penulis, padahal di sana jika digali dapat penulis temukan berbagai ilmu dan pengajaran moral yang tak diajarkan di dalam kampus-kampus berbayar itu.
Semisal seperti yang dilakukan oleh tukang sampah. Mungkin bagi kita tak ada artinya bayaran sosok tukang sampah. Tapi coba bayangkan, semisal tukang sampah yang mengambil sampah rutin setiap hari itu tidak ada. Apakah kita akan membuangnya sendiri? Atau kita akan menggantikan pekerjaanya? Tentu tidak mau bukan? Namun tukang sampah dengan sabar setiap hari ia lakukan itu. Memilah sampah basah dan kering, tanpa rasa jijik.  
Begitu banyak pelajaran yang bisa kita gali dari orang-orang sekitar kita guys. Meski terkadang kita masih saja merasa kurang-kurang saja, tak mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Coba kita lihat ulang, orang-orang yang lebih kekurangan dari kita ternyata masih banyak. Tapi ya begitu, kita keseringan menutup mata hati kita, lalu berkeluh kesah.
Pernah suatu kali penulis temui di terminal ketika akan pulang ke kampung halaman satu tahun yang lalu. Penulis melihat dengan mata kepala sendiri orang yang kekurangan fisiknya (tak mungkin penulis paparkan lebih lanjut) namun ia tetap jualan asongan dari bus yang satu ke bus yang lain. Penulis sempat mikir “Ya Allah ini orang milih bekerja daripada meminta”. Mungkin di sini kita dapatkan pelajaran tentang sifat pantang menyerah, meski memiliki keterbatasan namun ia tetap berusaha bekerja dalam menyambung hidupnya.
Terkadang penulis sendiri menemukan kehidupan orang kaya yang tak bahagia sedangkan orang miskin tapi bahagia. Bukankah suatu keanehan lawong orang kaya kok tidak bahagia, bukan? Tapi orang miskin bahagia hidupnya. Tentu cukup kontroversi, bukan? Ternyata orang kaya tak bahagia ini kebanyakan ia tidak mensyukuri nikmat yang Allah berikan, kerjaanya kurang saja. Padahal ia sebenarnya cukup, tapi melihat tetangganya punya ini pengen, punya itu pengen, tak ada tenang-tenangnya. Sedangkan si-miskin bahagia, ternyata ia dalam kehidupannya menerapkan sikap ikhlas dan syukur atas kehidupannya. Penulis coba menyimpulkan ternyata harta yang banyak, berlimpah tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Harta bukanlah ukuran dalam kebahagiaan seseorang, buktinya ya orang kaya gak bahagia itu tadi.
Mungkin itu saja guys, sebenarnya masih banyak hal pelajaran yang perlu kita pelajari di lingkungan sekitar saja. Di sini kita hanya butuh “buka mata, buka hati lalu pelajari”. Di sanalah kita akan temukan berbagai pelajaran yang tak pernah kita dapatkan dalam bangku-bangku sekolah dan buku-buku itu. Sejatinya kita nanti akan kembali ke tengah-tengah masyarakat dan berbaur pada mereka. Di tengah masyarakat nanti kita tidak akan ditanyakan titelmu apa? Jurusanmu apa? Lulusan apa? IPK-mu berapa? Tapi yang akan dipertanyakan oleh mereka adalah sejauh mana kontribusimu di tengah-tengah mereka.

Nah, mumpung belum terjun, pelajari medan perangmu. Sedia payung sebelum hujan guys. 

Post a Comment

0 Comments