Hampir Menyerah, Namun Lolos Masuk Final Pemilihan Putra dan Putri Pendidikan Jawa Timur 2024

Foto bersama peserta kategori lolos ke tahap finalis

duniahalimah.com–Minggu (22/4) merupakan hari bersejarah dalam hidup. Pertama kalinya mengikuti semifinal pemilihan Putra dan Putri Pendidikan Jawa Timur tahun 2024. Rasanya sungguh campur aduk, hingga menjelang Maghrib urutan 50 dipanggil untuk maju. Ya, urutan itu namaku. 

Ketika dipanggil, sungguh masih nge-freeze. Aku tak berharap banyak dengan ajang ini. Mengingat tak punya pengalaman dalam hal pageant.

Sebelum pengumuman berkali-kali kukatakan pada diri sendiri, "Aku sudah hebat telah melampaui batas-batasku. Jika diingat sebelum sampai ke ruangan ini aku hampir menyerah. Titik kecil di pelupuk mata keluar membasahi pipi dan merusak riasan yang telah kuoles dari pagi.”

Baca Juga:  Prestasi Tidak Hanya Sertifikat dan Piala

Berhasil memasuki ruangan ini tidaklah mudah. Butuh perjuangan yang panjang. Bahkan sebelum hari itu. Tenaga, pikiran, uang, dan juga waktu. Hal inilah yang sempat kukatakan saat ku acungkan tangan memberikan kesan dan pesan. 

Pada Minggu pagi hampir saja menyerah untuk datang di acara semifinal. Mulai dari jilbab hitam yang terlambat dikirim ekspedisi, hingga kesulitan memasang bulu mata. Meski sudah persiapan dari pagi, nyatanya hampir saja melewatkan kesempatan. 

Detik-detik pikiran ingin menyerah menyerbu, kutelepon bapak di rumah. Kemudian, kuceritakan duduk perkaranya. Seketika bapak menjawab, "Ya udah enggak usah pakai bulu mata." Sesederhana itu jawabannya. Sungguh aku tidak berpikir sesingkat itu. Tanpa pikir lagi segera menyiapkan diri dan berangkat menggunakan jasa ojek online. 

Sepanjang jalan, aku banyak diam. Sesekali meluapkan apa yang kurasakan di salah satu grup. Tiba-tiba wajah orang-orang yang telah mempercayaiku kembali hadir seakan di depan mata. Orang tua, guru, kawan seperjuangan, dan adik-adikku. 

Apakah aku tega mengecewakan mereka? Harapan dan doa mereka menjadi salah satu alasan untuk mencoba ajang ini. 

Mentari makin tergelincir, beruntungnya izin keterlambatan diterima oleh panitia. Sesampai di lokasi, aku turun dari motor dan tidak lupa mendoakan serta meminta doa kepada bapak ojek online. 

Kulangkahkan kaki menuju bapak satpam di depan pintu kaca. Kemudian bertanya dimanakah ruang Creative Room? Ia pun berkata di lantai dua. Meskipun sudah bertahun-tahun di Surabaya, bisa dihitung jari berapa kali datang ke swalayan ini. Aku mengira lantai dua menurut hitungan lantai yang kupijak. Akibatnya sulit menemukan ruangan yang dituju. Berputar-putar dan bertanya pada orang-orang di sana. Ternyata tidak ada. 

Lalu sampailah di dekat sebuah eskalator, aku bertemu peserta lain yang ternyata berasal dari Lumajang. Akhirnya menaiki eskalator selanjutnya. Benar saja ruangan yang kami cari ada di sana. Sebelum masuk, memberi nama di map dan segera menyerahkan berkas yang kubawa. 

Beruntungnya masih pembukaan dan aku cukup lama duduk mendengarkan sesi ini.

Setelah selesai, tibalah situasi yang menegangkan. Urutan pertama dimulai dari kategori anak, dilanjut remaja, dan terakhir dewasa.

Panitia meminta kategori dewasa untuk istirahat dulu dan aku memanfaatkan itu bersama peserta lainnya. Siapa sangka bertemu dengan orang Jember. Ia kuliah di UNEJ. Ya momen inilah menjadi hikmah bagiku. Aku yang belum sempat memakai bulu mata akhirnya bisa memakai berkat bantuan peserta dari Jember Namanya Cindy nomor urutan 55 yang nanti saat seleksi sekelompok denganku. 

Setelah sholat, kembali ke ruangan. Aku masih menunggu urutanku dipanggil. 

Akhirnya tibalah kondisi menegangkan itu. Tahap pertama di meja advokasi. Di sana ditanya tentang advokasi yang telah dan akan dijalankan. Aku sebagai urutan paling awal di antara 5 peserta diminta menjawab lebih dulu. Kuceritakan tentang gerakan kecilku sejauh ini. Aku yakin dan percaya langkah besar dimulai dari langkah kecil.

Setelah selesai, kami berlima pindah ke meja personality dan Grooming. Seperti yang kukatakan di awal tadi ini pengalaman pertama dalam hidup melakukan cat walk. Jika selama ini sekadar pernah melihat, kini betul-betul menyaksikan dan merasakan sendiri. Tahulah ya, jalan biasa saja sudah sulit dengan sepatu setinggi 12 cm, eh ditambah cat walk. 

Kemudian lanjut pertanyaan personality. Mulai dari perkenalan, alasan mendaftarkan diri, dan bagaimana mengatur waktu. Aku bisa menjawab semuanya sebagaimana yang kulakukan sejauh ini. Setelah selesai kembali ke tempat duduk masing-masing. 

Sembari menunggu peserta lain selesai, waktunya berkenalan. 

Kaki, betis, punggung, dan kepala semua terasa berdenyut-denyut. Namun, ya sudahlah mari menikmati proses ini. 

Menjelang Maghrib panitia mulai mengondisikan peserta. Pertanda pengumuman segera tiba. Dua orang remaja yang duduk disampingku saling bergandeng tangan. Dia bernama Ida dan Putri. Melihat mereka berdua pikirku hebat, karena kala seumuran mereka tidak punya kesempatan seperti ini.

Pembawa acara meminta peserta untuk memberikan pesan dan kesan. Tanpa ragu ku acungkan tangan. Lalu kuluapkan apa yang telah kutahan sejak pagi. Mulai dari menyaksikan pemuda hebat yang bersamaan denganku saat seleksi, hingga harapan untuk melanjutkan advokasi meski belum lolos. 

Ketika memberikan pesan dan kesan

Beberapa panitia terlihat bolak balik mengitari kami. Dugaanku mereka sedang mencari kandidat yang akan mereka pilih. Sekarang saatnya pengumuman dimulai dari kategori anak yang diloloskan semua. Disusul kategori remaja diambil 30 peserta dan dewasa diambil 27 orang. 

Ketika panitia mengumumkan kategori dewasa, mata dan telinga memerhatikan betul yang dipilih. Sempat bertanya, seperti apa kategori yang mereka pilih. Melihat sudah hampir 15 peserta dari kategori dewasa Putri, aku bergegas untuk merapihkan barang-barangku untuk bersiap pulang. 

Kataku dalam hati, “Kalau enggak lolos ya bukan takdirku. Aku bisa bergerak meski tanpa menjadi Putri pendidikan.” Puncak kepasrahan sepertinya telah menguasai. Tiba-tiba urutan 50 dipanggil. Air mata terasa mengambang, tapi terus kutahan untuk tidak mengacaukan riasan ini.

Foto  bersama semua peserta semi-final kategori dewasa putri

Aku bersama peserta yang lolos berfoto bersama, lalu diarahkan untuk ke belakang menentukan urutan berdasarkan tinggi badan. Sebagai orang yang tidak tinggi, aku berada di urutan kedua paling pendek. Setelah selesai, semua peserta yang lolos diminta untuk berkumpul. Di sana panitia mengumumkan beberapa hal termasuk memilih ketua kelas serta wakil ketua kelas. 

Aku melihat masih sepi tangan yang terangkat. Tanpa ragu kuangkat tangan ini. Semua orang tertuju padaku. Ada empat orang yang mencalonkan. Dua orang laki-laki dari kategori dewasa dan dua orang perempuan. Aku dan satu perempuan dari kategori remaja. Panitia meminta kami berempat untuk kampanye. Hingga sampai pada giliranku. 

Aku tidak berambisi dengan ini. Hanya saja, aku merasa rugi bila tidak mencobanya. Kukatakan mengapa perlu memilihku, karena aku punya pengalaman menjadi seorang wakil presiden di Duta Inisiatif Indonesia yang mengawal pemuda dari seluruh Indonesia. Aku ingin kita semua tidak menjadikan kawan di sebelah sebagai lawan, karena lawan sebenarnya adalah diri kita sendiri. Tumbuh sendirian itu bagus, tapi tumbuh bersama-sama jauh lebih bagus. 

Ya, seperti biasanya kata-kata itu keluar spontan dan membius mereka. Aku melihatnya dari cara mereka tersenyum dan bertepuk tangan. Setelah selesai, kandidat diminta belok kanan membelakangi peserta terpilih. Siapa sangka aku terpilih menjadi wakil ketua kelas. 

Foto saat pemilihan ketua kelas & wakil ketua kelas

Foto ketua kelas & wakil ketua kelas terpilih

Sampai tulisan ini selesai, masih belum bisa menggambarkan secara detail bagaimana kondisiku dihari itu. Aku yakin dan percaya bila dengan mengikuti ajang ini dapat membuka peluang selanjutnya, pasti dimudahkan-Nya. 

Aku bersyukur bisa melampaui perasaan ingin menyerah. Kalau saja hari itu tidak jadi berangkat, mungkin tidak akan ada tayangan tulisan ini. 

Hikmah yang kudapatkan dari satu hari itu, “Peluklah kata menyerah dan lampaui. Niscaya pasti memenangkannya.” Aku sadar ini masih tahap awal, masih ada tahapan selanjutnya yang lebih menantang. 

Mari terus menyala seperti namamu “cahaya”

Keep Fighting 💜

Catatan: semua gambar di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi Paguyuban Putra dan Putri Pendidikan Jawa Timur 2024


Baca Juga: Beranikan Diri Daftar Duta Pendidikan Jawa Timur 




Post a Comment

0 Comments