Sebulan Pertama Jadi Dosen

Ilustrasi: (Foto:internet)

duniahalimah.com—September adalah pengalaman pertama menjadi seorang dosen. Meski masih team teaching, rasanya sangat berbeda. Jika sebelumnya saya menjadi mahasiswa yang mendengarkan dosen, kini ucap saya yang didengarkan.

Ketika pertama kali memasuki kelas, kepercayaan diri belum sepenuhnya terisi. Beruntungnya, dosen saya mendampingi untuk pertemuan pertama. Setelah itu, sudah mulai memberanikan diri untuk berbagi pengetahuan di depan kelas.

Saya cukup sadar, jarak usia mereka hanya selisih beberapa tahun saja. Bedanya saya lebih dulu lulus. Hari demi hari berlalu, akhirnya sebulan terlewati. Beragam fenomena terjadi selama di kelas. Mengingat mata kuliah yang saya ampu berbasis praktik, maka sangat wajar jika mahasiswa tidak sungkan untuk mengonsultasikan persoalan hidupnya.

Pernah suatu hari saat materi merasakan energi yang saya susupi dengan hipnosis, tiba-tiba seorang mahasiswi menangis histeris. Sontak saja saya mendekatinya dan menanganinya. Tidak hanya di kelas itu, di kelas lain ada juga kejadian setelah merasakan energi, tiba-tiba pundaknya sakit. Lalu saya coba tanya persoalan yang dia alami, akan tetapi tidak mengaku. Akhirnya saya meminta izin untuk menyentuh bagian tubuh yang sakit. Namun setelah itu, sakitnya beralih ke perut.

Saya sebetulnya cukup khawatir, akan tetapi saya putuskan membawanya ke ruang lab. Di sanalah akhirnya ia bercerita tentang pengalaman yang menjadikannya trauma. Sembari ia bercerita saya men-tapping titik meridian dalam tubuh anak itu. Qodarullah sakit yang ia rasakan hilang. Sorenya saya dan Dini (asisten dosen saya juga) menceritakan peristiwa itu kepada dosen kami. Kata beliau sakit anak itu “pseudo atau tipuan” karena trauma masa lalunya.


Baca Juga: Keuntungan Menjadi Asisten Dosen


Tidak dapat dipungkiri, memang seru. Meski kadang saya harus mengencangkan suara karena intonasi mahasiswa kerapkali lebih besar dan hampir semua kelas sangat antusias mempraktikkan materi.

Saya berharap satu semester ini akan menjadi kisah perjalanan yang menyenangkan di kelas. Hingga detik ini saya menyadari masih belajar, walaupun sudah diberikan amanah menjadi tim pengajar. Pada kenyataannya saya selalu menjadi murid yang butuh guru,

Terima kasih untuk pengalaman satu bulan ini. Selamat berjuang untuk mengabdikan diri.

Baca Juga: Jangan Pernah Lelah Berproses


 

 

 

Post a Comment

0 Comments