Pentingnya Belajar Peran Orang tua dan Anak

Ilustrasi: (Foto:Internet)


duniahalimah.com--Anak dan orang tua bukanlah orang asing yang kedekatannya perlu diragukan. Akan tetapi, realita berkata lain, ternyata masih ada fenomena antara anak dan orang tua seperti orang asing. Orang tua yang tidak pernah menanyakan segala tentang anaknya, begitu pun dengan anak yang tidak mau tahu tentang orang tuanya. 

Berangkat pagi dan pulang malam adalah bagian rutinitas, sehingga tidak sempat bertukar cerita. Seharusnya meja makan menjadi tempat terasyik untuk bercanda, malah pagi buta berangkat bekerja. Tidak ada waktu senggang di hari libur dan jika sempat bersama lebih fokus pada gawai di tangannya.

Bagaimana menurutmu jika kamu berada di posisi anak atau orang tua itu?

Persoalan semacam  di atas kerapkali saya temui ketika membantu dosen saya yang berprofesi sebagai psikolog. Seperti hari ini (22/1), seorang ayah datang ke klinik lalu menceritakan keadaan anaknya yang Minggu lalu telah melakukan sesi konseling. Dari cerita Bapaknya, sang anak lebih suka berdiam diri di dalam kamar saja, keluar kamar hanya untuk makan atau mandi, dan tidak terbesit untuk membantu kesibukan orang tuanya. Laki-laki itu juga mengaku kedekatan dirinya dengan anaknya belum terbentuk dengan baik.

Setelah laki-laki itu pergi, dosen saya mendiskusikan soal orang tua dan anak.

Menurutnya, seorang anak akan melihat sesuatu dari kacamata perannya sebagai anak, begitupun dengan orang tua akan memakai penglihatan orang tua. Sehingga keduanya tidak ada titik temu untuk menyelesaikan persoalan. Anak mengaku apa yang dipilihnya paling benar dan orang tua beranggapan tekniknya sudah benar.

Akan tetapi, tidak berlaku pada seseorang yang belajar tentang orang tua dan anak, baik seorang psikolog atau mereka yang bergaul dengan kalangan anak atau orang tua. Karena mereka akan mampu melihat dari dua sudut pandang; baik anak dan orang tua. Tentu, melihat dari dua sudut pandang sekaligus cukup sukar diterapkan, akan tetapi harus bisa mempelajarinya.


Orang tua sudah pernah melalui masa menjadi anak dan anak belum pernah menjadi orang tua. Apalagi, pengalaman anak belum begitu banyak. Pada titik inilah orang tua harus berperan di dalamnya. Maka, jalan tengah yang harus diambil orang tua ialah mendekati anak, membangun kedekatannya, dan memasuki dunia mereka. Sebab dengan memasuki dunia anak, orang tua akan lebih mudah mengontrol keadaan mereka. Sehingga anak merasa nyaman dan tidak akan malu menceritakan segala yang dirasakannya. Saat anak sudah merasa nyaman dengan orang tuanya, maka tidak akan mencari pelampiasan di luar sana.

Kebanyakan, patologi sosial yang ditimbulkan oleh anak-anak, akar permasalahannya dimulai dari keluarga. Seperti orang tua yang memilih berpisah, bertengkar di depan anak, terlalu sibuk bekerja sehingga tidak mempedulikan anak-anaknya, lupa me time dengan anak, dan seterusnya. Misalnya, menanyakan pelajaran di sekolah, mengapresiasi ketika anak berhasil mengerjakan tugas, adalah bentuk kepedulian yang sangat penting dalam perkembangan anak. Agar anak merasa dicintai dan dihargai.

Sayangnya, tidak semua orang tua bersikap demikian. Malah memaksakan kehendak kepada anaknya. Kemudian, mematok ekspektasi setinggi-tingginya pada anaknya, “Kamu harus jadi ini, kamu harus jadi itu.” Melontarkan kata-kata semacam itu dengan nada menghardik, berharap anaknya mau mengikuti apa yang orang tua inginkan. Nyatanya, sang anak makin tertekan, bahkan bisa jadi menantang dan memilih sembunyi-sembunyi untuk melakukan segala yang dilarang oleh orang tuanya.

Dosen saya sempat berkata, dekatilah anak, bicaralah dari hati ke hati, “Lebih baik mana anak sadar akan perilakunya yang tidak baik, dibandingkan orang tua memaksa anaknya untuk berperilaku baik?” Bisa saja di depan orang tuanya, sang anak berperilaku sopan, akan tetapi di luar rumah sikapnya berubah. Dari sinilah tugas orang tua adalah memberikan pilihan kepada anaknya, jika melakukan hal itu ada konsekuensinya.


Bukankah perubahan ke arah yang lebih baik adalah tugas diri kita sendiri? Bukan orang tua, guru, dan semua orang di luar diri kita masing-masing. Begitu pun dengan anak-anak, apalagi yang tengah memasuki jenjang remaja dan dewasa awal. Sudah saatnya mereka memilih dunia mereka sendiri dan orang tua berperan mengarahkannya saja.

Bicara perihal anak dan orang tua, sungguh tidak mudah. Apalagi, cara membangun kedekatan dengan anak. Karena tidak mudah, maka tiap-tiap kita harus mengupgrade keilmuan dibidang itu juga.

Wawwahua’lam
 

Post a Comment

0 Comments