CATATAN KELUARGA WAJIB KAMU TAHU [1]

Ilustrasi: (foto:Internet)

Postingan kali ini sekadar berbagi pengetahuan dengan pembaca budiman. Rasanya kurang bersemangat jika pemahaman yang saya dapatkan hanya mengendap di kepala.


Jum’at, 4 September 2020 saya berbincang-bincang dengan seorang psikolog—tidak lain adalah dosen sendiri. Beliau, Herliyana Isnaeni, M.Psi, Psikolog, dan sangat kebetulan  saat ini ia mengonsenkan diri pada persoalan keluarga dan pernikahan.  Memperbincangkan masalah pernikahan bagi saya pribadi tentu menarik, mengingat beberapa waktu lalu sempat menjadikannya kajian untuk calon tesis. Di sisi lain bisa dijadikan bekal di masa mendatang. Inilah beberapa catatan saat berkeluarga, antara lain;


Padamnya Cinta


Pagi itu sembari menunggu klien, saya bertanya soal  bagaimana tanggapan psikologi ketika mendapati laki-laki yang telah bercerai dengan isterinya lalu menikah  lagi. Kemudian saat tengah mengarungi bahtera keluarga yang kedua,  laki-laki ini ingin kembali lagi dengan isteri pertamanya.


Kemudian beliau    menjawab, sebetulnya cinta kepada isteri  pertama masih ada. Hanya saja padam. Ketika dia dengan orang lain, disitulah terjadi “membanding-bandingkan” dengan isteri sebelumnya. Itulah mengapa kata beliau, ketika menangani klien yang menginginkan bercerai, sebisa mungkin untuk tidak memilih bercerai. Namun persoalannya menjadi lain ketika perceraian yang digugat berdasarkan perselingkuhan. Mengapa?


Tangki Cinta


Selain itu, beliau juga menyebut tentang Tangki Cinta. Di mana di dalamnya berisi lima hal yang harus ada dalam keluarga. Karena jika ada salah satu yang tidak ada, maka akan mencari di tempat lainnya. Ada lima, antara lain;

Sentuh. Selama ini barangkali didikan orang tua tidak pernah menunjukkan sentuhan lembut suami pada isteri di hadapan anak-anaknya. Padahal ini sangat penting, agar anak bisa mempelajarinya, bahwa mengasihi dengan cara menyentuh lembut.
 

Kata-kata Pujian, ini juga perlu dipenuhi dalam konsep tangki cinta. Seperti halnya ayah memuji anaknya. Ketika kata pujian ini tidak ia dapatkan, bisa jadi ia akan mencari pujian dengan bersikap tidak-tidak demi mendapatkan perhatian orang di sekitarnya.

 

Waktu berkualitas (bukan sisa). Selama ini orang-orang pada umumnya menyisakan waktu untuk keluarga di tengah kesibukannya. Padahal Anda tahu sendiri, bukan? Bagaimana kesibukan orang zaman sekarang. Berangkat pagi dan pulang malam. Pagi berangkat sebelum anaknya bangun dan datangnya setelah anaknya tidur. Disinilah seharusnya keluarga menjadi prioritas utama dengan memberikan waktu berkualitas. Misalnya, saat di rumah ayah dan ibu tidak memainkan gawai, akan tetapi bermain dengan anaknya.

 

Reward atau hadiah, Tidak dapat dielak manusia juga butuh hadiah dalam hidupnya. Misal memasak makanan kesukaan suami ketika pulang kerja atau memberikan hadiah buku kepada anaknya karena berhasil menjadi juara kelas.

 

Pelayanan. Di dalam keluarga juga butuh namanya pelayanan; misal melayani suami dengan baik; menebar senyum dan tidak cemberut.


Luka Batin Pengasuhan


Perbincangan persoalan pernikahan ini tidak berhenti sampai di situ. Hari Sabtu, 6 Septermber klinik Insight Consultant juga mendapatkan klien yang memiliki permasalahan dalam keluarganya. Ternyata ketika ditelisik, akar masalahannya ada pada luka batin pengasuhan. Tentu pembaca akan bertanya-tanya mengenai apa maksud dari luka batin pengasuhan. Jujur saja saya sendiri baru mengenalnya ketika saya membantu dosen yang tidak lain seorang psikolog itu.


Luka batin pengasuhan  ialah luka yang dibuat ketika seorang anak masih diasuh oleh orang tuanya dan terbawa hingga ke masa sekarang.  Lagi-lagi mengutip Bu Lea, ketika tangan seorang anak dicubit tentu sakit. akan tetapi sakitnya hanya bertahan satu sampai dua hari, namun sakit batinnya bisa terbawa seumur hidup.


Pertanyaannya, bagaimana dengan pengasuhan orang tua kita selama ini? Atau bagaimana kita mengasuh anak-anak kita kelak?


Baca Juga: Solusi Jitu Mendidik Anak!! Berdamai Dulu Dengan "Inner Child"


Hari Terakhir


“Jadikan hari ini adalah hari terakhir,” tutur Bu Lea. Karena jika menganggap hari ini adalah hari terakhir maka kita akan memberikan hari itu kenangan yang indah pada orang sekitar.


Aset Berharga

 

“Memang menyiapkan masa depan anak penting, namun jauh lebih penting menyiapkan mereka menghadapi masa depannya.” Herliyana Isnaeni, M.Psi, Psikolog.

Anak adalah sset berharga bagi kita semua. Tidakkah anda pernah mendengar hadis Rasulullah, amal yang terus mengalir adalah anak saleh yang mendoakan. Betul, menyiapkan masa depan itu penting, namun menyiapkan bekal di masa mendatang itu jauh lebih penting. Mungkin memberikan warisan banyak untuk anaknya itu bagus, namun akan lebih bagus jika menyiapkan strategi anak-anak kita dalam menghadapi perjalanan di masa depannya. Misal dengan mengajarkan mereka pemahaman agama yang utuh.


Release Sebelum Tidur


Agar tidak menjadi luka batin masa lalu, maka sebaiknya sebelum tidur persoalan dalam keluarga selesaikan terlebih dahulu. Karena inner child dalam diri kita tidak mampu membedakan mana yang baik atau tidak. Oleh karena itu sangat penting, menyelesaikan persoalan sebelum tidur. 


Itulah sekilas diskusi saya dengan Bu Lea, seorang dosen, psikolog, sekaligus owner Insight Consultant. Semoga bermanfaat. 

Post a Comment

0 Comments