Uang di Mata Manusia

Apakah sesuatu itu hanya dapat dinilai dengan uang? Apakah sesuatu itu hanya dapat dinilai dari seberapa untungnya untuk kita?
Begitulah yang seringkali saya dengung-dengungkan dalam benak saya. Terkadang saya
melihat kebanyakan orang menilai sesuatu hanya sebatas harga jualnya. Bahkan tak jarang
saya sendiri melihat bahwa uang seakan-akan adalah segala-galanya. Seakan-akan tanpa uang
hidup ini tak akan bahagia. Apakah seperti itu? Kemanakah esensi di balik semua itu? Apakah uang adalah esensi dari segala sesuatu?
Uang di masa saat ini memiliki otoritas tertinggi di mata manusia. Semua dinilai dari segi
h
terjadi adalah kematerialistikan dalam hidup seseorang. Pikirannya uang-uang dan uang.
Uang seakan-akan telah menghegemoni setiap manusia.
asil yang akan diperolehnya. Untung dan rugi yang selalu diperhitungkan. Sehingga yang
Coba perhatikan, orang yang kaya raya kebanyakan hidupnya tak bahagia, mengapa? Aneh
bukan. Bukankah kalau sudah kaya, uang berlimpah seseorang mampu membeli apa pun
yang diinginkan. Semua keinginan terkabulkan. Akan tetapi, pada realitanya kekayaan yang
dimiliki orang kaya itu tak membawa kebahagiaan sedikit pun. Dan malah membuat orang itu
semakin sibuk dengan dunianya dan akibatnya akhiratnya terlupakan. Siang malam bekerja
mengurus perusahaan, jarang sekali bertemu keluarga. Berangkat pagi, pulang larut malam,
seakan-akan hidup seperti mesin berjalan yang tak pernah berhenti sedetik pun.
Padahal hidup di dunia ini hanyalah sementara dan tak akan lama. Rumah megah, mobil
mewah, motor mewah, sepatu, baju, celana, dan lain sebagainya mewah, saya jamin tak akan
dibawa keliang kubur. Hadis Rasulullah mengatakan bahwa kita di alam kubur hanya
membawa tiga amal, yaitu ilmu yang bermanfaat, shodaqoh jariyah, dan doa anak saleh.
Lantas apakah kita sudah mempersiapkan hal itu?
Apakah sesuatu itu harus dinilai dengan uang? Saya kira tidak. Semisal tentang kebahagiaan,
apakah kebahagiaan dapat dinilai hanya sebatas dengan uang? Saya kira untuk mendapatkan
kebahagiaan, seseorang tidak harus mengeluarkan uang banyak, pergi berbelanja ke mall,
nge-dugem, tak perlu itu. Kebahagiaan itu sifatnya abadi, maka untuk memperolehnya kita
bisa memperbanyak mendekatkan diri kepada Allah, insya Allah kebahagiaan kedekatan
dengan Allah itu sifatnya lebih abadi dibandingkan kebahagiaan berfoya-foya.
Kadang saya heran, ketika melihat ada beberapa katakanlah pendai yang
menargetkan upahnya pada orang yang mengundangnya. Memang perbuatan seperti ini tidak
semerta-merta dilakukan oleh seluruh penda’i. Namun, ada beberapa yang seperti itu. Saya
rasa sikap seperti ini, sebenarnya tak pantas. Memang berdakwah demi kebaikan itu sangatlah
baik, bahkan sangat dianjurkan untuk setiap manusia berdakwah di jalan Allah. Namun, jika
menargetkan upah atau mengharapkan bayaran, apakah itu sejalur dengan perintah agama.
Seakan-akan terlihat agama dipertukarkan, seakan-akan nilai agama sama dengan nilai uang.
Padahal agama mengajarkan sikap tulus dan ikhlas, bukan yang lain. Jika yang diharapkan
adalah uang. Nah, apakah ini dinilai ikhlas. Saya kira tidak. Memang, kita tidak bisa
mengukur keikhlasan seseorang. Namun, jika menargetkan uang tentu sangat terkesan sekali
tidak ikhlas dalam berdakwah.
Pernah saya mendengar dari sosok senior saya, beliau mengatakan jika berdakwah jangan
pernah mengharapkan imbalan. Kalau menjadi pendakwah alangkah baiknya diselingi dengan
bekerja sampingan. Sehingga, di samping berdakwah kita tak akan khawatir dengan
kebutuhan hidup kita.
Pada intinya, janganlah menilai sesuatu itu dari hasil yang akan kita dapatkan ketika kita
melakukan sebuah kebaikan. Ketika kita sibuk memikirkan uang, yang terjadi malah kita
terhegemoni pada kehidupan dunia yang amat fana ini. Padahal kita dianjurkan untuk menggenggam dunia dan bukan malah sebaliknya.
#sekadar_coretan_tak_bermakna

Post a Comment

0 Comments