Syukurlah Hanya Mimpi*


Kutapaki tebing-tebing yang terjal yang agak brutal. Membawaku terengah-engah serasa napas tinggal hanya di kerongkongan. Selangkah lagi aku akan segera sampai menuju tempat yang aku impikan. Di mana tempat aku memulai kisah ku dengan gadisku setahun yang lalu. Gadis yang tak pernah jemu di pandang, ayu nan rupawan.

Kakiku terasa terkilir oleh batu di dekat persimpangan tebing menuju bukit pertama kali bertemu. Aku terpaksa berhenti memijat kakiku yang terasa kaku. Aku lupa sesuatu, di tas kubawa minyak urut untuk persediaan perjalanan yang meletihkan ini. Ku pijat kakiku, hingga tak terasa lagi, namun tetap saja masih bengkak.

Kalau bukan karena kau, aku tak mungkin memantapkan hati, menaiki tebing yang terjal ini, demi untuk sampai di tempat pertama kali bertemu setahun yang lalu. Jujur ku tak pernah membayangkan tentangmu. Ku yakin kau semakin dewasa dengan rambutmu yang semakin panjang dan bola mata yang bulat, alis yang tebal, bibir yang merekah, dan pipi yang merona laksana putri kayangan.

Pepohonan saling melambai-lambai menyaksikan aku yang bersusah payah menahan letih dan susah. Dedaunan beradu-radu, bertepuk tangan riuh. Suara kicauan burung menyanyi-menyanyi sembari menyemangatiku dalam perjalanan. Bukannya aku tak mau menaiki kendaraan menuju atas bukit itu, namun memang jalan yang tak memungkinkan jika aku membawa kendaraanku ke atas bukit sana. Apalagi jalan yang cukup licin, juga menjadi salah satu penyebab aku tak mengendarai mobilku. Akhirnya ku putuskan untuk jalan kaki, sembari membawa ransel yang ada di punggung ini.

Matahari mulai memberikan tanda-tanda tak bersahabat denganku, cerahnya mulai redup. Seiring dengan bergantinya awan putih berganti awan gelap bergulung-gulung. Padahal tinggal beberapa meter lagi, aku akan sampai. Namun, cuaca hari ini semakin tak bersahabat denganku. Aku putuskan untuk memakai mantel yang telah aku  persiapkan sebelum keberangkatan.
Aku telah terlanjur berjanji kepadanya untuk menemuinya di bulan januari tahun baru ini. Tadi pagi aku telah menelponnya, bahwa aku akan menginap di rumah pamannya. Tempat di mana kita pertama kali bertemu dulu.

“Hallo”, di ujung sana seorang perempuan mengangkatnya
“Apakah ini dengan Rahma”
“Iya, saya sendiri, ada apa ya”
“Saya Robi, kamu sekarang di mana”
“Kamu, wah lama tak bertemu, aku ada di rumah paman nih”
“Okay, nanti sore aku ke sana, sekalian mampir ya”.
**
Akhirnya aku sampai di depan rumah pamannya. Ku ketuk pintu kayu itu, seseorang membuka gagang pintu. Ternyata yang keluar adalah seorang perempuan setengah baya.
“Cari siapa ya”
“Rahmanya ada Bu, saya temannya”
“Duduklah terlebih dahulu nak”, perempuan itu tak meneruskan percakapannya, lantas berbalik arah menuju ke dalam rumah.
Aku masih terpatung, bukankah tadi aku telah menelpon gadisku setahun lalu itu. Mengapa dia tak muncul juga. Ada apa gerangan. Apakah dia lupa?. Perempuan tadi muncul di balik pintu dengan membawa nampan berisi teh panas dan beberapa kue kering.
“Monggo dilahap dulu nak”
Setelah itu, perempuan ini menjelaskan padaku, bahwa Rahma telah meninggal satu bulan yang lalu. Ia sakit demam yang berlebihan, dan akhirnya ia tak tertolong. Mendengar pernyataan ini hatiku terasa hancur, remuk tak berdaya. Tangisku pecah bukan main.
***
Aku tersentak dari dalam tidurku, ketika ada seseorang yang membangunkanku seakan terdapat dua alam dalam hidupku. Aku tak mengerti mengapa dia gadis yang aku telepon pagi hari mengatakan ia ada di rumah pamannya. Namun, perempuan setengah baya tadi mengatakan gadisku telah tiada.
“Kak bangun”,
Aku tersentak, aku bermimpi gadis yang aku harapkan masih ada di sampingku, yang akan menjad ibu untuk anak-anakku.

“Aku bersyukur , ini hanya mimpi. Ku peluk dia, tanpa terasa air mataku mengalir membanjiri pipi. Begitu sayangnya diriku, rasanya tak mampu bila aku kau tinggalkan, wahai gadisku.

*) Seperti halnya cerpen yang lain, cerpen ini aku tulis dengan amat sederhana. Oleh karenanya aku sangatlah mengharap kritik dan saran yang sangat membangun untuk lebih giat lagi dalam menulis.

Post a Comment

0 Comments