Perasaan Ini yang Merawatku untuk Terus Semangat Menjadi Pengajar

Dok. Mahasiswa TP F1 angkatan 2024

Kemarin, 8 September 2026, setelah salat Zuhur, aku memiliki jadwal kelas Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Seperti biasa, terjadi kegiatan belajar-mengajar. Namun, ada satu momen yang membuatku sangat bersyukur.

Aku menyadari betul bahwa jam mengajar kelas ini sangatlah rawan. Rawan mengantuk dan minim konsentrasi. Sebagai seseorang yang pernah berada di posisi semacam ini, tentu paham bagaimana rasanya dosen menjelaskan, tapi sama sekali tidak ada satu pun yang tertinggal di kepala. Barangkali itu juga yang dialami oleh mahasiswa.

Tidak kehilangan akal, kucoba membuat sedikit permainan. Permainannya: jika ada lima orang yang bisa menjawab pertanyaanku, maka kelas akan diakhiri. Siapa sangka, mereka menyambutnya dengan sangat heboh. Setiap pertanyaan yang kuajukan, hampir seisi kelas bersahut-sahutan menjawabnya.

Ketika aku menggelengkan kepala dan berkata 'no', dahi mereka terlihat berkerut—sepertinya mereka tengah berpikir. Menyaksikan adegan itu, sungguh aku menahan tawa. Mereka sangat bersemangat, padahal menit-menit sebelumnya terlihat layu.

Setelah lima pertanyaan berhasil terjawab, seisi kelas makin heboh dan, seperti janjiku, kelas diakhiri.

Sebetulnya, kalau kita melihat jam yang aku akhiri, tidak begitu awal, justru bisa dibilang sedikit lagi jam akan berakhir. Namun nyatanya, mereka menyambut dengan antusias.

Setelah kelas berakhir dan aku berbincang dengan beberapa mahasiswa yang masih tinggal di kelas, aku menyadari sesuatu. Perasaan inilah yang terus-menerus merawatku untuk menjadi seorang pengajar.

Tak terasa sudah empat tahun menjalani profesi ini dan perasaan yang sama terus hadir dalam darahku. Bertemu mahasiswa rasanya seperti menemukan energi baru. Saat liburan panjang tiba, tidak jarang aku merindukan momen-momen di kelas. Interaksi sepanjang kelas; curhatan, ocehan asbun mereka, pemikiran kritis, dan kekanak-kanakannya. Aapalgi kalau mereka menggunakan baju toga, sungguh merasa bangga.

Meski aku sangat tahu, bukan aku yang membuat mereka sampai ke titik itu. Pernah menjadi bagian dari perjalanan mereka pun rasanya sangat membanggakan.

Sepanjang empat tahun ini, ada banyak hal yang terjadi. Bahkan aku pun belajar dari mahasiswa. Tidak jarang sebagian dari mereka dengan sangat mudah membagikan kisah hidupnya kepadaku. Tentang luka, keresahan, pengembangan dirinya, hingga cita-cita yang ingin diraihnya di masa depan.

Aku merasa bukan seperti seorang dosen dengan mahasiswa, melainkan kakak bagi adik-adiknya. Tentu tidak salah, mengingat aku juga angkatan kedua di program Tasawuf dan Psikoterapi. Kalau diingat-ingat, sesungguhnya ini cita-cita yang pernah kuucapkan kepada dua teman kelasku saat masih di bangku kuliah.

Ternyata, semesta telah bekerja dan hari ini mimpi itu benar-benar nyata.

Aku tidak tahu-menahu bagaimana masa depan akan membawaku, tetapi aku selalu percaya bahwa apa yang terjadi hari ini bukanlah kebetulan, justru ada pelajaran dibaliknya. Sebagaimana Dia berfirman dalam kitab-Nya, “Tidak ada daun yang jatuh karena kebetulan, semua terjadi atas izin-Nya…’

Untuk adik-adik mahasiswa, semangat ya… Teruslah berproses di mana pun berada…

 

Post a Comment

0 Comments