duniahalimah.com—Pernahkah kamu mengonsumsi botok? Botok adalah makanan khas Jawa yang biasanya terbuat dari parutan kelapa. Ada juga yang mencampurnya dengan tempe, tahu, dan sayur-sayuran. Kemudian, semua bahan tersebut dibungkus dengan daun pisang dan dikukus.
Namun, pada postingan kali ini saya tidak ingin menceritakan bagaimana nikmatnya mengonsumsi botok. Apalagi bila dimakan dengan nasi hangat, dijamin akan nambah.
Bicara botok, sebetulnya ada kisah yang mengingatkan pada sosok nenek yang mengabdi di pesantren tempat saya belajar dulu. Kami semua memanggilnya Mbah Sayuna. Seorang nenek yang memilih menghabiskan waktu tuanya di Pesantren Darul Mukhlashin, Probolinggo.
Ketika di pesantren, saya termasuk santri yang sering mengonsumsi botok buatannya saat hangat. Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, mbah Sayuna sudah siap dengan botoknya. Tidak jarang juga, saya mendapat diskon saat membelinya.
Mengingat momen itu, sungguh tak kuasa menahan air mata yang menetes. Menjadi seorang santri tak selalu makan dengan kenyang, ada uang saku yang harus dihemat. Namun, berkat mbah Sayuna, santri satu ini terbantu.
Ada banyak momen yang masih membekas di kepala tentang beliau. Bahkan setelah lulus pun, setiap mengunjungi pesantren, saya sempatkan mencari keberadaannya. Dan apa yang terjadi? Beliau selalu ingat dengan nama saya.
Terakhir, saya berjumpa dengannya bulan Januari saat sosialisasi kepada santri. Mbah Sayuna di dapur membantu Ibu Nyai memasak. Seperti biasa, mbah Sayuna adalah sosok orang tua yang tidak pernah mau berdiam diri. Ada saja yang akan dilakukannya.
Namun, siapa sangka, bulan Januari 2026 itu perjumpaan terakhir. Sehari setelah salat Raya Idul Fitri 21 Maret 2026, ia kembali kepada-Nya.
Mbah Sayuna orang yang sangat baik, istikamah beribadah, tawaduk perilakunya, tulus, dan ikhlas pengabdiannya.
Kebaikannya mungkin terlihat sederhana, tetapi meninggalkan jejak di hati para santri
Semoga Allah merahmatinya, melapangkan kuburnya, mengampuni segala khilafnya, aamiin. Alfatihah.

0 Comments