Menjadi Pemimpin dari Rahim Masyarakat

Ilustrasi: (Foto:internet)

duniahalimah.com—Nabi Muhammad dalam sebuah hadis menyebut setiap kita adalah pemimpin dan kelak akan diminta bertanggungjawab atas kepemimpinan ini. Inilah paling sederhananya kepemimpinan, yakni pemimpin bagi diri sendiri. Memperbincangkan soal pemimpin, pastinya bukan perkara asing lagi di telinga. Bahkan hampir setiap saat media masa dihiasi dengan berbagai isu pemimpin. Mulai dari berita asik didengar, hingga berisik di telinga. Mengapa itu terjadi? Wajar saja, sebab mereka—pemimpin—lahir dari rahim masyarakat sendiri.


Seorang pemimpin memang lahir dari tubuh masyarakat sendiri. Seperti halnya pemilihan presiden, mereka yang mencalonkan adalah bagian dari masyarakat, kemudian dipilih oleh masyarakat. Pemilihan lainnya pun demikian. Jika terlahir di tengah-tengah masyarakat, artinya pemimpin tidak lebih dari masyarakat itu sendiri. Namun apakah semua pemimpin menyadari hal ini? Sekadar tahu mungkin “iya,” tetapi ditanya soal apakah sadar? Tentu ini jawaban cukup sukar.

Mengapa begitu? Mari kita coba renungi perkembangan kepemimpinan, khususnya di negara kita. Berapa banyak pemimpin yang menyalah artikan kedudukan di pundaknya? Berapa banyak pemimpin yang sekadar menyapa masyarakat tidak ada waktu? Mungkin memang tidak semua. Tetapi saya pribadi masih ingat betul, bagaimana suasana saat pemilihan pemimpin, baik itu sekelas Pilkades, Pilbup, Pilgup, Pilpres, dan seterusnya. Keadaan menjadi sangat riuh dan kacau. Antar tetangga menjadi musuh, sebab pilihan yang berbeda. Antar kelompok beradu kepalan, saat kelompok lainnya berbeda pilihan. Bukan hanya sikut menyikut—individu atau kelompok—hingga suap menyuap pun menjadi tontonan asyik bagi mereka yang mengamati.

Hampir setiap musim pemilihan, ada saja persoalan sebangsa itu di tengah-tengah masyarakat. Seakan-akan mereka tidak tahu, jika setiap manusia punya pilihan dan pikirannya sendiri. Lantas dengan sekenanya menindas, naasnya hingga teror meneror terjadi untuk mereka yang memilih calon pemimpin berbeda. Kejadian ini bukan hanya dilakukan oleh simpatisan saja, calonnya pun ikut andil mematahkan. Setelah pemilihan selesai, persoalannya tidak semerta-merta usai di masyarakat. Bagi yang kalah akan memendam amarah dan suatu saat bisa meledak. Sedangkan yang menang bersuka cita.

Setelah beberapa saat, pemimpin yang dipilih tidak lagi nampak batang hidungnya, sekadar singgah pun tidak. Keadaan menjadi berbeda antara masa-masa pemilihan dengan bumbu senyum manis, sikap tanggap, dan ramah kepada masyarakat. Tetapi itu semua berakhir fana. Nyatanya semakin dimakan waktu, semua itu hilang dan pudar. Memang tidak semua begitu, namun ada semacam ini, kan? Jika  menemukan, berarti Anda benar-benar memperhatikan.


Lebih parah lagi di saat pemimpin yang dipilih, malah menjadi musuh bagi masyarakat sendiri. Seperti halnya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang tidak mewakili rakyatnya sendiri. 
Bukannya mewakili rakyat, tapi malah berbalik arah menindas rakyat. Apakah ini tidak keterlauan? Ya, sangat tidak keterlaluan bagi mereka yang duduk manis memainkan rakyatnya sendiri. Sayangnya itu tidak berlaku bagi rakyat yang sedang berjuang mendapatkan haknya.

Apakah sikap semacam itu bisa disebut amanah? Silakan jawab sendiri. Menjalankan amanah sebagai seorang pemimpin memang tidak mudah. Namun perlu diingat betul setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Nabi berpesan sebagaimana disebut Quraish Shihab (2008), saat Abu Dzar meminta sebuah jabatan kepada Beliau; itu adalah amanat, ia adalah nista dan penyesalan di hari kemudian, kecuali yang menerimanya dengan hak (sesuai atauran main) dan menunaikan kewajibannya. Selain itu Nabi bersabda lagi; apabila amanat disia-siakan maka nantikanlah kehancurannya. Kemudian beliau ditanya; bagaimana menyia-nyiakannya? Beliau lalu menjawab; apabila wewenang pengelolaan diserahkan kepada yang tidak mampu.

*)Telah terbit di laman kamianakpantai.com pada tanggal 2 Mei 2021

Post a Comment

0 Comments