MENGAPA KAMU MENULIS? INI ALASANNYA

Ilustrasi: (foto: pribadi)
duniahalimah.com--“Seorang penulis butuh mengonsumsi tulisan-tulisan bergizi,” kalimat ini saya dengar saat mengklik sebuah link dan tiba-tiba mengarah ke aplikasi zoom. Dalam forum ini ternyata sedang memperbincangkan tentang literasi dengan seorang pemateri asal pulau Madura.

Mendapati sebuah kutipan ucapan pemateri di atas (saat menjawab pertanyaan peserta itu) membuat otak saya berpikir. Barangkali inilah alasannya mengapa ada istilah “Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.” Tidak dapat dipungkiri setiap penulis baik yang sudah terkenal atau masih pemula, dapat dipastikan pernah mengalami writer block. Sebuah kondisi di mana seseorang tidak mengerti apa yang akan ditulisnya. Sudah berjam-jam di depan layar, namun tidak sepatah kata pun tertulis di lembar dokumen. Menyitir pemateri tadi—yang tidak saya ketahui namanya—mengatakan di situlah membuktikan bahwa pengetahuan dan pemahaman kita terbatas. Itulah mengapa seorang penulis harus membaca.

Selain itu dengan membaca kita dapat meperkaya pengetahuan dalam tulisan. Karena sang penulis mengonsumsi asupan gizi memadai. Diksi yang digunakan pun akan bertambah sejauh apa yang dibacanya. Apa yang kita baca juga berpengaruh kepada tulisan kita.


Menulis sejatinya pekerjaan mudah, bagi yang sudah terbiasa. “Terkadang untuk menjadi biasa itu perlu dipaksa, meski terkadang ada penulis yang memulainya dengan cinta.” Di sana pemateri juga menyebutkan, untuk penulis pemula hendaknya membiasakan menulis dari hal-hal kecil, seperti status di media sosial. Pada mulanya satu paragraf, namun istikamah. Lambat laun menjadi terbiasa dan akan terus menerus ketagihan menulis.

Imam Syafii pernah memaparkan dengan menulis kita mengikat ilmu dan bacaan. Saya pribadi mengamini ungkapan ini. Memang cara belajar setiap orang berbeda, namun yang memiliki gaya belajar seperti saya akan lebih ingat jika apa yang dibaca dan didengar ditulis.[1]

Banyak hal yang bisa kita dapatkan dengan menulis, seperti kita dapat memperoleh ketenangan. Dimana dikenal dengan term “Writing for healing”  menulis adalah menyembuhkan. Barangkali para pembaca pernah menulis di buku diary. Tentang kegiatan sehari-hari, meliputi perasaan bahagia, sedih, marah, dan lainnya. Tiba-tiba setelah menuliskannya, perasaan kita terasa lebih tenang dan lebih bahagia. Dilansir dari sebuah tulisan di kumparan.com menyebutkan bahwa BJ. Habibie, presiden ketiga Indonesia menolak depresi setelah kematian Ainun. Hal mengejutkan dari BJ. Habibie ternyata bisa sembuh tanpa mengonsumsi obat. Cara yang dilakukannya adalah dengan menulis.[2] Menulis apa yang dirasakan dalam hati; kepahitan, trauma, kegelisahan. Dengan begitu membuktikan dapat menyembuhkan.

Pramoedya Ananta Toer—seorang penulis yang karyanya masih banyak dibaca hingga detik ini—mengatakan “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Tidakkah kita perhatikan bagaimana orang-orang besar dahulu, ahli fikih, para ‘arifun, ahli tafsir, arkeolog, dan seterusnya. Mereka semua dikenal hingga detik ini melalui karyanya. Hari ini memang kita tidak pernah bertemu dan kenal dengan Imam Al-Ghozali, namun kita tahu tentang dia melalui magnum opusnya ihya’ ulumuddin. Kita memang tidak hidup di zaman Imam Syafii, tapi kita mengonsumsi ajarannya saat ini gara-gara dia menulis.

Tunggu apalagi? Setiap kita sejatinya mampu menulis. Namun yang membedakan adalah terletak pada usaha kita masing.

“Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah”, Al-Ghozali.

Semoga bermanfaat.
#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMEDI_KE-14
 

[1] Dunia psikologi mengenal ada lima gaya belajar manusia, yakni cara belajar visual, audiotori, kinestetik, global, dan analitik.



Post a Comment

0 Comments