KATA DILAN RINDU ITU BERAT!!! KATAKU!!



“Rindu,” tutur seorang pujangga dalam sebait puisinya. Ya, kukira kau sudah kenal dengan kata ini, bukan? Kata yang selalu membuat siapa saja rela meneteskan air mata atau melakukan sesuatu demi terobatinya rasa itu. Tidak asing lagi, namun kau tahu dalam tulisan ini aku ingin menuliskannya sebagai bentuk ejawantahan gejolak dadaku tentang ini.
Bagiku kata rindu menjadi suatu perbendaharaan asyik untuk ditampilkan ke permukaan. Diejawantahkan dalam bentuk ke”puitisasian” lalu dinikmati bersama alunan angin menerpa rambut tergerai. Ketika memperbincangkan soal ini pertama kali muncul dalam benak adalah kata-kata indah yang tidak lepas dari pembahasan perasaan. Perasaan yang Allah ciptakan yang tiba-tiba datang serta tidak dapat dilihat bentuk serta warnanya.
Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa  kata “Rindu” dikenal dengan makna sangat ingin atau benar-benar berharap, atau bisa juga berarti sebuah keinginan kuat untuk bertemu. Sedangkan menurutku kata rindu sendiri hanyalah sebuah label untuk menyebutkan sebuah rasa yang dialami oleh anak manusia. Biasanya timbul dengan gejolak-gejolak meraup dada, seakan-akan ingin meluap layaknya air berlebihan di dalam gelas.
Perasaan rindu itu terjadi kapan saja dan di mana saja. Tua, muda, bahkan seluruh manusia pun pernah merasakannya. Rindu pada sesuatu yang telah terlampaui dan jejaknya tidak dapat diulang kembali. Tidak jarang ketika rindu itu datang air mata menetes begitu saja, layaknya kran otomatis. Seperti rindu kepada orang tua dan orang terkasih. Selain itu, rindu bisa disebabkan oleh kerinduan kepada suasana nyaman, tenang, tentram, dan tempat-tempat penuh kenangan.
Di saat perasaan ini datang setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk melesatkan rasa di dadanya itu. Jika Rumi mengejawantahkan kerinduannya dengan berzikir seraya memutarkan tubuhnya, menarik energi positif semesta lalu menyalurkan ke bumi. Seorang penyair menuangkannya ke dalam syair-syairnya seperti bongkahan mutiara keluar dari penanya. Penyanyi melukiskan kerinduannya dalam setiap lirik lagunya, pelukis dengan melukiskannya, para sufi dengan riyadlahnya,  dan para pencinta dengan tangisannya.
Pernahkah kau melihat seseorang yang rindu Rasul lalu selalu menangis saat mengingatnya? Pernah pula kau melihat orang mendengar namanya disebut, maka bergetarlah hatinya? Pernahkah juga kau merasa beliau hadir di tengah-tengah majelis saat selawat tersebar ke seluruh penjuru ruangan? Kemudian kau teteskan air matamu begitu saja, seakan-akan beliau hidup kembali. Aku sendiri pernah menyaksikannya, itulah rindu.
Bagiku pembahasan soal rindu selalu menarik untuk kutulis, karena rasa itu datangnya tidak pernah diduga dan logika tunduk kepadanya. Bagaimana tidak, di saat sedang sibuk-sibuknya lalu mengingat jejaknya menjadi teringat, lalu meneteslah air mata. Jika Dilan bertutur rindu itu berat dan ku sadari memang benar-benar berat. Namun apalah daya rasa itu datang saja, semakin ditolak semakin mengejar.
Lembaran biru membuatku terbelenggu. Siapa yang tahu? Ah, rindu
Rasa itu datang bertandang meski tak pernah ketuk pintu
lalu dia masuk begitu saja
Dia bisikkan kata-kata
Dada pun bergetar, air mata berjatuhan
Mengingat dalam setiap gerakan salat
Menangis saat wajah tengadah
Kerap menyapa ingin bersua
Sebut namanya dalam doa
Surabaya, 22 November 2019


Post a Comment

0 Comments