TIDAK SEMUA ORANG IDEALIS!!!

Sumber: voiceofadiet.wordpress.com

Idealis. Tentu kita begitu lumrah mendengar terminologi ini. Bahkan di mana-mana seringkali diumbar-umbar. Tidak jarang para pemuda dijadikan sebagai simbol kepemilikan sikap ini. Kata idealis sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yang bercita-cita tinggi. Sedangkan sumber lain menuturkan “Idealis merupakan orang yang bertindak berdasarkan pengalaman empiris, unik, pikiran maupun cita-cita yang tinggi untuk menggaet hasil yang maksimal”.
Di era modernisasi seperti ini, menemukan orang jenis ini saya kira sangatlah sulit dan tergolong langka. Bagaimana ia dengan rasa idealisnya merasa tidak terima ketika rakyat ditindas, diperas, dan dibodohi. Tidak jarang emosinya meninggi ketika mendapati hal itu terjadi. Sorot matanya serasa berapi-api melihat rakyat makin hari makin terkikis.
Salah satu website, Kaskus namanya sempat menyebutkan beberapa kriteria yang dimiliki oleh orang idealis. Jenis orang berjiwa idealis ini biasanya memiliki sikap cenderung “lurus” atau kasarannya tidak mudah dibawa arus. Pendiriannya begitu kuat dan tentunya dia tidak akan merasa terbebani dengan pendapat orang lain tentang dirinya. Biasanya mereka akan nyaman-nyaman saja menjalani hidupnya itu. Apa yang dia yakini, itulah yang ia jalani. Kaidah-kaidah umum yang tidak sesuai dengan hati nurani tentu dia tidak akan mengikutinya [1]
Saya kira banyak orang yang tertipu dengan kata idealis itu sendiri. Bagaimana tidak dikatakan begitu, jika di mana-mana diumbar-umbar ungkapan idealis, namun nyatanya di balik itu semua ada kepentingan-kepentingan terselubung. Ya, tampaknya memang tidak ada kepentingan, namun pada tataran realitanya sedang melakukan pengerukan dari belakang.
Apakah fenomena seperti ini ada? Ya tentu banyak. Mengaku-ngaku, mengobral-ngobral bahwa dirinya adalah pembela rakyat kecil, penolong rakyat miskin, namun pada nyatanya bukan itu tujuannya. Ya, saya sendiri tidak dapat mengholistikkan hal ini, tapi pada tataran realita di lapangan seperti ini. Contoh kecilnya; seperti sedang memperalat sebuah komunitas untuk mencapai sebuah kepentingan pribadi.
Penilaian komunitas sendiri sangatlah bagus, bahkan dapat memberdayakan orang-orang sekitar ke arah yang lebih produktif. Namun di sisi lain aparat yang memiliki otoritas tertinggi bermain di dalamnya. Tentu mereka bermain tidak secara terang-terangan, tapi secara samar-samar, namun tepat mengenai sasaran.
Tidak hanya itu, fenomena lain juga seringkali terjadi seperti ini. Bahkan sejarah sendiri telah banyak memberikan bukti tentang hal ini. Bagaimana sesuatu dijadikan tunggangan untuk mencapai kepuasan diri. Begitu pun dengan rakyat kita, seringkali ditindas, diperas, dan tak jarang tidak mendapatkan keadilan ketika meminta hak-haknya dipenuhi. Di muka saja berpura-pura memihak pada rakyat, namun dilain pihak dia sedang menyusun strategi untuk memakan mangsa yakni rakyatnya sendiri.
Malam ini (01 Juni 2019) saya mendapati sikap seseorang yang membuat diri begitu salut kepadanya. Bagaimana dia mendirikan sebuah perkumpulan pemuda, hingga dia dipercayai oleh aparat pemerintahan untuk mendirikan karang taruna. Salah satu konsep terbesarnya adalah mendobrak ketidakbenaran dan ketidaksesuaian dengan hati nurani. Tidak peduli lagi tentang bisik-bisik orang lain di belakangnya. Selagi itu benar ia akan mendobraknya begitu saja.
Saya sendiri mendapati orang ini menjadi begitu takjub. Apalagi ketika dia menegur diri yang sedang  inkonsisten terhadap ucapan yang pernah terlontar beberapa bulan lalu. Dengan suara cukup garang—secara pribadi—dia menegur kelakukan saya yang menurutnya tidak sesuai dengan keyakinan dianutnya. Lambat laun, dalam sepi malam saya menyadari ucapan-ucapan orang ini.
Mari kita kembali kepada awal pembahasan kita. Idealis, ya kata begitu singkat, namun begitu menantang. Kata sederhana, namun mengandung banyak makna. Tidak mudah seseorang menerapkannya dalam hidupnya. Bahkan bisa jadi orang beranggapan dirinya idealis, sebenarnya tidak idealis. Idealis bermakna mempercayai kebenaran, menjadi garda terdepan dalam memihak kebenaran. Bukan karena kepentingan-kepentingan di belakangnya. Sungguh sebelumnya tidak pernah saya menemukan sikap seperti ini. Dan baru saya sadari pula mempertahankan idealis itu sulit, sesulit melupakanmu.
---------------
[1] m.kaskus.co.id

Post a Comment

0 Comments