Ilustrasi: (Foto:pribadi)

duniahalimah.com—Kali ini Saya akan membahas sedikit terkait buku yang sudah Saya baca, karangan Anand Krishna terbitan Gramedia. Bukunya berjudul “Tetap Waras di Jaman Modern Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern" dicetak pada tahun 1998. Jika dilihat dari judulnya tentu buku ini tidak terlepas dari Ronggowarsito sebagai pembahasan utamanya, bukan? Nah mau tahu kan isinya?

Ok next...

Dalam buku ini terdiri lima serat yang di dalamnya lebih tepat disebut pesan-pesan untuk kita—khususnya. Ya, meski Ronggowarsito sendiri telah berkalang tanah, jauh dari kehidupan kita saat ini. Namun tembang-tembang yang dihadirkannya masih cukup relevan untuk dijadikan pedoman dan bahan renungan di zaman canggihnya peradaban.

Sebelum beranjak lebih jauh, teman-teman perlu tahu siapakah Ronggowarsito. Pepatah lama mengatakan tak kenal maka tak sayang, belum kenal tokohnya bagaimana akan mengenal pemikirannya. Beliau hidup sekitar tahun 1802 hingga tahun 1873. Merupakan seorang pujangga berasal dari tanah Keraton Surakarta. Penulis buku ini menuturkan dia hidup sezaman dengan Sri Mangkunagoro IV bahkan ia juga bersahabat.

Anand Krishna dalam pengantar buku ini menyebut Ronggowarsito sangat memberkahi tanah Jawa dengan kehadirannya. Karena bagi Krishna seorang pujangga merupakan milik dunia, bukan milik kelompok, negara, atau satu bangsa saja. Sosok pujangga dinilai tidak akan pernah mati melalui karya serta pandangan yang diejawantahkannya.

Di bab pertama adalah Serat Kalatidha atau “Jaman Kebimbangan.” Dalam bab ini berbicara tentang sebuah negara, pemimpin, zaman yang “edan” ini, serta orang yang sabar.

Mangkya darajating praja, kawurjan wus sunya ruri, rurah pangrehing ukara, karana tanpa palupi, ponang paramengkawi, kawileting tyas malatkung, kongas kasudranira, tidhem tandhaning dumadi, adrayengrat dening karoban rubeda”

Saat ini negara kita sudah berada pada titik terendah. Sistem pemerintahan sudah hampir runtuh. Dan semuanya itu terjadi karena tidak adanya sifat keteladanan” [1]

Yang bisa merasakan hal ini hanyalah seorang pujangga. Kata pujangga sendiri dalam KBBI berarti sastrawan. Namun dalam buku ini kata pujangga berasal dari “bujangga” dalam kebiasaan timur dimaknai sebagai ular. Ular di sini disimbolkan sebagai kebijakan dsn kekuatan. Seekor ular tidak memiliki tulang punggung, tetapi ia mampu mengangkat kepalanya. Ia dapat mengalir seperti air, begitulah pujangga. Bijak namun kuat.  Zaman boleh saja “edan,” akan tetapi seorang pujangga tidak akan melepaskan kesadarannya. Karena ketika melepaskan kewarasan serta kesadarannya bukanlah disebut seorang pujangga. Hati seorang pujangga akan terpukul jika melihat penderitaan yang dialami oleh lingkungannya. Begitulah hal unik yang ada pada diri sosok pujangga itu. [2]

Membaca beberapa bait yang dicantumkan Anand Krishna mengingatkan Saya pada ucapan seorang Ustad di rekaman beberapa tahun lalu, “Saiki jamane jaman edan, sopo ora edan ora keduman.” Ucapan ustad ini maknanya mirip dengan bait ke 7 dalam bab 1 buku ini.

Awenangi jaman edan, ewuh aya ing  pambudi, melu edan mora tahan, yen tan melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun dilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada

Menghadapi jaman edan ini, memang pikiran pun kacau. Ikut jadi edan tidak diijinkan oleh nurani. Sebaliknya apabila tidak ikut demikian, akan terisolasi dari masyarakat luas. Namun bagaimana pun juga, betapa pun nikmatnya kehidupan mereka yang ikut menjadi edan, masih lebih bahagia mereka yang tetap mempertahankan kesadaran” [3]

Di bab II Serat Sabdajati atau Kebijakan Abadi berbicara tentang keseimbangan, tentang materi yang seringkali menggiurkan siapa saja, menyakini Tuhan, dan seterusnya. Bab III Serat Sabdatama “Nilai-nilai luhur”. Bab IV serta Jaka Lodhang “Suara Hati Nurani, dan terakhir adalah Bab V Serat Wedharaga “Menemukan Jati Diri”. Inilah isi dari buku karangan Anand Krishna

Dalam ulasan kali ini, Saya tidak akan membicarakan satu persatu isi dalam buku ini, karena akan lebih baik jika kamu membaca bukunya. Namun tulisan ini tidak akan berhenti sampai di sini saja. Saya tertarik untuk menceritakan sekilas di bagian bab terakhir dan ini menarik, paling Saya suka di antara bab sebelumnya.

Bab Menemukan Jati Diri, di sini dijelaskan bagaimana setiap orang ingin menjadi sosok pemimpin namun dia tidak memiliki pengalaman serta kemampuan. Anehnya amat terobsesi menjadi orang nomor satu. Orang semacam telah terperangkap pada obsesinya. Ia akan melakukan apa saja.  Apa pun dan bagaimanapun caranya harus mendapatkannya.

Orang yang tidak memiliki potensi namun berambisi, akhirnya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Padahal dirinya tidak mumpuni dibidang itu. Seharusnya tahu diri ucap Anand Krishna.

Baca Juga: Sebuah Novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan

Selain itu pesan untuk Kita sebagai pemuda, dianjurkan belajar mengendalikan diri sebagai cara terbaik untuk bekal masa tua nanti. Kemudian kita perlu belajar kepada orang lain, meneladani perilakuSyang baik. Kita tidak boleh seperti Tong kosong yang berbunyi. Tidak memiliki isi, namun sok-sok-an memahami. Mengaku pintar padahal sejatinya bodoh. Orang pandai biasanya tidak akan menampakkan dirinya. Dia akan selalu merasa bodoh, karena dengan begitu dia akan terbuka untuk belajar kepada siapa saja. Pernah suatu ketika senior saya pernah menuturkan “Jangan merasa pintar, karena ketika kamu merasa pintar, maka kamu akan terhijab oleh kepintaranmu itu”.

Wong ngurip tamtu akeh padha arebut piyangkuh, lumuh lamun kasor kaseser sathithik, nanging singa peksa unggul, ing wekasan dadi asor.

Manusia memang selalu bersaing dan ingin menjadi unggul. Tetapi sesungguhnya ia yang mengejar-ngejar keunggulan, justru tidak akan memperolehnya [4]

Oleh karena itu kita dianjurkan oleh Sang Pujangga agar tidak berbuat sombong. Mengaku diri hebat, padahal sejatinya tidak becus sama sekali. D sinilah kita seharusnya mencari akan jati diri dan menyadari diri sendiri.

Sebenarnya masih banyak lagi pesan-pesan yang bisa membuka cakrawala pandangan kita. Seperti yang tertulis di atas. Namun akan lebih baik jika Kamu membaca bukun ini hingga tamat. Selamat Membaca.

Sumber:

[1] Anand Krishna, Tetap Waras di Jaman Edan Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern, (Jakarta: Gramedia)

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid.