Makna Kepergian dan Kehilangan: Pelajaran Hidup dari Founder Satu Tuju

duniahalimah.com--Sebelum hari berganti (24/2) aku membuka Instagram Satu Tuju dan Cita-citaku. Apa yang terjadi di sana? Ucapan doa, terima kasih, dan kenangan terbaik bersama Almarhum Kak Didit terus berdatangan. 

Mendapati itu, tiba-tiba saja air mata menetes. Air mata yang sedari pagi ditahan-tahan, akhirnya lolos juga. Terngiang kembali bagaimana mengenalnya selama ini. Sosok yang tidak sekadar founder, tetapi guru dan kakak tertua dalam tim.


Pertama kali aku mengenalnya dari sebuah unggahan yang lewat di beranda sekitar tahun 2023. Pelan-pelan aku mengikuti setiap unggahannya, termasuk webinar yang ia selenggarakan. Hingga suatu hari terucap dalam hati,“Suatu saat aku akan dikenal kakak ini.” 


Entah bagaimana semesta bekerja. Perlahan kesempatan itu datang. Satu tuju, platform yang didirikannya, sedang mencari relawan. Tanpa menunggu lama, aku segera mendaftarkan diri. Pengumuman wawancara pun datang. Di sana kuceritakan tentang pengalaman dalam kampanye kesehatan mental. Termasuk si LITO juga tidak lupa kujelaskan.


Pengumuman kelulusan relawan pun tiba. Aku dinyatakan lolos sebagai manajer pada bidang Community Manager. Tugasku memimpin tim membuat konten interaksi di grup komunitas Satu Tuju. Timku terdiri dari tiga orang, dan setiap satu minggu sekali rapat dengan kak Didit.


Ketika rapat berlangsung, tidak jarang ia membagikan ilmu yang dimilikinya kepada kami. Sehingga sangat pantas bila kami menyebutnya bukan sekadar founder.


Aktivitas ini berlangsung sampai jabatan menjadi relawan selesai. Enam bulan terasa sangat singkat. Bahkan di pertemuan terakhir Community Manager waktu itu, timku sangat sepakat untuk menjadi relawan kembali.


Masa menjadi relawan sudah usai. Akan tetapi, suatu hari kak Didit menghubungiku dan meminta waktu untuk rapat khusus. Di sanalah ia menawarkan peran baru untukku sebagai admin di Instagram Satu Tuju. Ia mengatakan bahwa mulai dari dari Instagram hingga calon klien yang ingin berkonsultasi harus menghubungi nomorku terlebih dahulu.


Aku sangat setuju dengan itu. Peranku masih berjalan, hingga beberapa waktu kemudian, aku pun mendapat tawaran untuk berkecimpung di platform Cita-citaku. Tugasku memegang akun Instagramnya, menjawab komentar, dan membalas direct massage. Selanjutnya, tugasku bertambah yaitu mengingatkan tim desain untuk memosting unggahan di hari Selasa dan Jum’at.


Tim Cita-citaku berada di lokasi yang berbeda-beda. Meski begitu, rapat mingguan dan akhir bulanan senantiasa dijalankan. Bahkan sebelum berganti tahun, kami masih melaksanaka rapat. Hingga pada bulan Februari tahun 2026, kami menyadari jika itu adalah rapat terakhirnya. 


Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Kini kakak itu telah pergi untuk selamanya. 


Sebenarnya, sebagian tulisan ini sudah kutulis pada malam hari saat kepergiaan Kak Didit. Hanya saja, baru siap melanjutkan dan mengunggahnya sekarang.


Dari kepergian Kak Didit, aku banyak belajar tentang makna kepulangan. Salah satunya tentang amal jariah melalui konten. Sampai saat ini, konten-konten yang dibuatnya masih ada saja yang menonton. Bahkan penonton dan pengikut baru itu mungkin tidak tahu jika orang dalam konten tersebut telah wafat. 


Banyak orang merasa kehilangan, termasuk mereka yang tidak pernah berinteraksi langsung dengannya. Ucapan doa dan kenangan baik terus diceritakan. Sampai-sampai aku sendiri berpikir, “Bagaimana denganku? Apakah aku juga akan meninggal dalam keadaan baik, dikenang baik, dan ditangisi banyak orang?


Ketika pikiran itu muncul, aku bergidik...


Setelah kabar wafatnya kak Didit tersebar, aku dan tim pada malam harinya membaca Surah Yasin, berdoa bersama, dan mengenang kisah yang ia tenun bersama kami. Kami juga sepakat untuk melakukannya kembali di hari ketujuh.


Wafatnya kak Didit juga mengajarkanku arti patah hati yang sesungguhnya bukanlah putus dengan kekasih, melainkan ketika berpisah dengan mereka yang telah meninggalkan kehidupan ini selamanya. 


Itulah mengapa kita perlu membuat kisah terbaik selama masih diberi kesempatan berada di dunia ini. Sebab tidak ada yang tahu, jangan-jangan setelah ini giliran kita.


Alfatihah untuk Kak Didit (Muhammad Didit Dwi Wahyu, Phd) Founder platform Satu Tuju dan Cita-Citaku.



Post a Comment

0 Comments