APAKAH KITA PERLU BERSYUKUR?

Sumber gambar : tabungwakaf.com


     Terkadang, kita seringkali mengeluh atau bahkan sedikit-sedikit nesu dengan nikmat yang kita dapatkan dalam setiap harinya. Benar tidak?? Saya yakin kita—bisa dikatakan—jarang bersyukur dengan nikmat yang kita peroleh setiap harinya. Kerjaannya hanya mengeluh-mengeluh, kurang-kurang, dan kurang, betul gak? Begitulah diri kita.
Padahal di dalam Alquran sudah seringkali telinga kita mendengar terkait ganjaran yang akan kita dapatkan, apabila kita mensyukuri nikmat yang Allah limpahkan kepada kita. Semisal dalam surah Ibrahim ayat tujuh;
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih”,
Selain itu, masih banyak lagi ayat Alquran yang membahas tentang perihal bersyukur. Perlu teman-teman ketahui bentuk bersyukur sendiri tidak hanya dalam bentuk ucapan alhamdulillah saja, tapi kita bisa mengaplikasikan bentuk syukur kita melalui tingkah laku, perkataan, dan ibadah kita.
Oiya, perlu juga digaris bawahi, bahwa bersyukur itu tidak harus karena kita mendapatkan rezeki, mendapatkan uang, dan semacamnya, tapi dalam segala hal kita patut bersyukur. Kita punya mata masih dapat melihat, telinga masih bisa mendegar, kaki, tangan, masih lengkap, hal itu juga perlu disyukuri. Coba bayangkan jika kita tidak punya anggota tubuh yang disebutkan tadi tentu kita akan merasa kesulitan, bukan?
Teman-teman juga perlu tahu bahwa sikap syukur juga tergolong ke dalam pembahasan tasawuf loh!! Bahkan dibeberapa pemikiran para pelaku tasawuf syukur dijadikan sebagai maqam (station) atau tingkatan untuk mendekatkan diri dan sampai kepada-Nya.
Ya, mungkin bagi orang yang sering membaca buku tasawuf bisa dikatakan dengan pembahasan satu ini sudah sangat mafhum bahkan sudah di luar kepala—barangkali. Seperti di dalam tarekat Tijaniyah sempat menyebutkan;
Syukur adalah pintu terbesar Allah dan jalan-Nya yang terlurus. Karena itu, setan selalu duduk di jalurnya, merintangi orang-orang mukmin yang melewatinya.” Syaikh Sholeh Basalamah dan Misbahul Anam, Tijaniyah Menjawab dengan Kitab dan Sunnah,  (Cimputat: Kalam Pustaka, 2006), 68.
Sedangkan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sempat mengatakan bahwa hakikat syukur yaitu mengakui ikmat yang Allah limpahkan, karena hanya Dialah pemilik dari segala karunia, sehingga hati kita ini dapat mengakui bahwa segala nikmat ini semata-mata berasal dari Allah Swt. Kemudian sempat pula al-Jilani mengatakan bahwa bentuk syukur itu ada tiga yakni syukur bil lisan, bil hal, dan bil mal.
Pertama, bersyukur dengan lisan, yakni bersyukur sembari mengucapkan hamdalah. Semisal melihat panorama indah di kaki gunung lisan kita berucap alhamdulillah ya Allah kau berikan mata ini untuk menikmati pemandangan yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata.
Kedua, bersyukur dalam bentuk perbuatan adalah bentuk syukur melalui akhlak atau kelakuan kita. Semisal kita membuktikan syukur kita dengan banyak beribadah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah.
Ketiga, bersyukur dalam bentuk harta, yakni menyedekahkan sebagian rezeki yang kita peroleh. Bukankah kita seringkali mendengar dalam pelajaran fikih, bahwa di dalam harta adapula harta anak yatim, fakir miskin, dan seterusnya.
Ya, mungkin bagi sebagian orang sikap syukur tidaklah terlalu penting dan mungkin suatu perbuatan yang kecil. Namun jika kita beranggapan seperti itu, tentu kita akan merasa diri kita selalu kurang-kurang dan kurang. Coba kita perhatikan fenomena yang sering terjadi di masayarakat kita, misalnya; banyak tuh orang yang kaya tapi tidak bahagia sedangkan orang miskin hidupnya bahagia. Nah, salah satunya karena si orang kaya ini tidak mau bersyukur, sedangkan si-miskin meski mendapatkan rezeki sedikit bersyukur.
Mungkin ini saja celoteh saya pada pagi hari ini, semoga kita semua dapat bersyukur atas nikmat yang Allah limpahkan pada diri kita dalam setiap detiknya, amin.



Post a Comment

0 Comments