Mirip Kisah Sunan Kalijaga

Sumber: kresnabayutour.com

Teriakku di atas hamparan pegunungan hijau, di bawah langit yang tanpa tiang, di hadapan udara yang tak terlihat. Sembari melihat jauh ke depan hingga tak terasa menembus batas-batas kehidupan, semua terlihat gelap dalam pandangan mata, seketika kabur, mataku berputar-putar seiring dengan kepalaku tiba-tiba pusing.

Kilauan sinar mentari menerpa mataku, sosok yang tak dikenal berada tepat di depanku. Dia membangunkan aku dari tidur malamku. Kuteringat tadi malam kuberteriak di hamparan pegunungan hijau, kemudian kumenatap jauh ke depan, hingga batas yang tak terkendalikan.

Sungguh, jika kutahu itu, tentu aku tak akan berela-rela hati untuk pergi menyelidiki kebenaran dunia lain. Namun, nasi telah menjadi bubur dan tak akan pernah bisa diulang kedua kali.

Kupaksa diriku yang masih berdenyut-denyut kepala ini untuk bangkit mengikuti sosok kakek tua yang mendapatiku tergeletak di hamparan pegunungan hijau ini.

Diajaklah aku ke gubuknya yang tak jauh dari tempat tergeletakku. Terlihatlah gubuk dari kejauhan, tapi yang kulihat bukan hanya sekedar gubuk. Ukurannya tak terlalu besar, tapi tak kecil. Di dalamnya terdapat satu dipan, satu tungku, dan satu lemari.

Kakek itu mempersilahkan aku masuk ke dalam gubuknya.

“Seperti inilah anak muda, gubuk tempat tinggal saya.”

“Tak apa Kek”, ucapku

Sejenak aku termenung kembali, mengapa aku tiba di sini. Tadi malam aku masih sempat di dalam kamarku sendiri, sembari membaca buku tentang kisah kakek tua yang telah mencapai puncak pengalamannya.

***

Kakek tua itu hidup sebatang kara, namun ia sangat rajin dalam bekerja dan beribadah. Konon dahulu, dia bercerita bahwa dia dahulu adalah laki-laki yang sangat nakal, dan bahkan jauh dari yang Maha Kuasa. Suatu hari ia bertemu dengan sosok manusia tua yang hendak ia rampok hartanya. Padahal orang tua itu tak memiliki apa-apa, kecuali hanya tongkat yang berlapis emas di tangannya. Dan itu pun emasnya sudah rentan keropos. Si orang tua tadi tiba-tiba menunjuk pohon kelapa di sebelahnya.

Angin berdesir sangat keras, rerumputan dan pepohonan bergoyang-goyang, pohon yang ditunjuk tadi menjadi emas seluruhnya. Tertunduklah pemuda yang akan merampok itu yang tak lain adalah kakek yang menemukanku dan tak lain adalah tokoh utama dalam kisah buku yang aku baca.

Semenjak itulah, ia menyatakan menjadi murid kakek yang akan ia rampas hartanya. Sebelum menjadi murid kakek tadi, ia harus membuktikan kesetiaannya dengan cara mengekang hawa nafsunya dengan berdiam diri, dan bertafakkur.

Lalu ia segera melaksanakan apa yang disyaratkan oleh gurunya. Hari demi hari ia jalani, bulan demi bulan ia lalu, hingga tahun demi tahun, dan ternyata si Kakek tadi baru teringat bahwa ia mensyaratkan seorang murid agar berdiam diri dari keramaian dunia.

Di tahun ke sepuluh Kakek tua itu membangunkan pemuda ini. Tubuhnya penuh dengan semak belukar, tapi anehnya pemuda itu tak mati. Si kakek membangunkannya dengan adzan. Sekujur tubuh pemuda itu terasa mengalir energi-energi positif, lalu ia tersadarkan kembali seperti sedia kala.
Lalu kakek tua tadi, menyarankan diri pemuda itu agar tinggal di gubuk ini, sembari mengamalkan ajaran yang kakek itu berikan. Aku yang mendengar kisah itu, sungguh tercengang dengan keajaiban itu. Mengapa tak mati, padahal tak makan dan tak minum.

Suatu hal yang tak rasional bagiku, teringat olehku dengan salah satu kisah wali yang akrab disebut dengan Sunan Kalijaga. Dalam kisahnya ia disyaratkan untuk bertapa menunggu di tepi sungai hingga si guru yang tak lain adalah Sunan Bonang datang kepadanya. Bertahun-tahun berlalu, barulah ia dibangunkan dari penjagaannya itu. Kurasa hampir mirip dengan kisah Sunan Kalijaga.

“Kek, kisah engkau hampir sama dengan Sunan Kalijaga”, ungkapku

“Loh, saya ini adalah Sunan Kalijaga”,


Aku tersentak kaget, berkunang-kunang mataku. Tubuhku seakan-akan basah kuyup bagaikan ditimpakan air ke sekujur tubuh. “Bangun-bangun, sudah pukul tujuh, kamu belum sholat”, ibuku menyiramku dengan seember air.

Tamat

Post a Comment

0 Comments