Jadi Keinget Desa

Suara adzan berkumandang dari surau-surau ujung kampung, bersaut-sautan memecahkan keheningan malam. Suara kokok ayam, menandakan pagi telah datang. Malam telah berlalu, pagi telah datang. Suara-suara manusia sholeh menuju surau-surau dekat rumahnya. Pagi yang dingin, namun sejuk, dibandingkan dengan suasana siang hari di ujung kota sana.
Tanpa tersadar, aku sedang melamun, seakan-akan aku masih di desa. Sekarang di Surabaya, pagi begini, masih terlihat sepi, namun ada satu-dua yang menapaki jalan aspal dekat gang depan kos. Suasana yang berbeda, jika dibandingkan dengan di desa. Ya, jika dibandingkan dengan desaku, ya jauh berbeda 99 derajat. Suasana kampung yang penuh dengan ketentraman, damai, pepohonan di sekitar, sehingga beruntunglah yang hidup di desa, tyidak kekurangan oksigen. Jika di kota, tentu Oksigen cukup sulit, jika mengingat jumlah pepohonan yang tidak terlalu banyak, dan polusi yang berhamburan di mana-mana. Apalagi, jika ditambah dengan lahan yang semakin semakin sempit, namun bangunan tetap digalakkan. Bahkan terkesan terlihat berjubel-jubel. Dan pastinya terlihat kurang menyenangkan jika dipandang mata.

Post a Comment

0 Comments