Resensi Buku

Judul Buku                  : Islam dan Pluralisme: Akhlak Qur'an Menyikapi Perbedaan
Nama Pengarang         : Jalaluddin Rakhmat
Penyunting                  : As’adi Abdul Ghani
Penerbit                       : PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan                       : Kesatu, September 2006
Ketebalan Buku          : 292 halaman
ISBN                           : 979-1112-36-3
Buku ini dirancang untuk para pembaca dalam memahami dan menghadapi fenomena pluralisme. Yang acap kali terjadi dan seringkali dibenturkan dengan keyakinan agama. Selain itu, buku ini juga membahas tentang autensitas iman dan membahas tentang kemungkaran sosial.
Ketika berbicara tentang pluralisme, problem yang pertama kali dihadapkan adalah perbedaan. Padahal dengan adanya perbedaan, manusia dituntut untuk memikirkan perbedaan itu sehingga menjadikan perbedaan sebagai rahmat yang patut manusia syukuri. Penulisan buku ini tidak terlepas dari pengalaman diri penulis sendiri.
Fenomena pluralisme yang paling kerap diperbincangkan dan diperdebatkan adalah pluralisme agama. Begitu seringnya antar agama beranggapan bahwa dirinyalah yang paling benar dan selainnya adalah salah. Bahkan tak jarang saling mengklaim antara yang satu dengan yang lainya. Padahal agama datang untuk menyempurnakan akhlak.  Perihal selamat bukanlah ranah manusia untuk memperbincangkan.  Menurut Ridhâ, orang yang merasa pasti akan selamat hanya karena dia Islam, Nasrani, dan Yahudi adalah orang yang terbuai dengan nama. Selain itu, dalam buku ini juga dipaparkan mengenai skisme, yakni asal muasal kata ini berasal dari Kristiani. Skisme dalam Kristiani muncul dahulu ketika terjadi perpecahan antar umat Kristiani. Sehingga memunculkan dua kelompok umat, yang pertama Kristiani Romawi dan yang kedua Kristiani Yunani. Yang keduanya ini saling mengaku benar. Ternyata skisme ini juga dialami dalam agama Islam. Seperti halnya muncul mazhab-mazhab fikih, kalam, dan lain sebagainya. Yang beranggapan dirinya saja yang benar, padahal seharusnya tidak bersikap demikian.
Dibagian dua buku ini menjelaskan tentang autensitas iman. Para sufi yang ingin mengetahui Tuhan dengan pengabdian, bukan pemikiran, melalui cinta, bukan kata, melalui takwa bukan hawa. Mereka tidak ingin mendefinisikan Tuhan, namun mereka ingin menyaksikan Tuhan.
Dibagian tiga buku ini membahas mengenai sosial, transparasi, dan amar ma’ruf  nahi mungkar. Setiap muslim dituntut untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di dalam kebaikan. Sedangkan mengenai transparasi, di dalam islam dianjurkan untuk menerapkan sikap shiddiq sebagaimana yang dilakukan oleh para Nabi dan orang-orang terdahulu.
Keunggulan Buku
Saya kira buku ini cukup menunjang unutuk wawasan kita dalam menghadapi persoalan pluralisme, khususnya dalam agama. Apalagi di dalam buku ini didasarkan dengan berpedoman al-qur’ân dan hadis. Selain itu, penyusunnya menambahi dengan mengutip beberapa tokoh, baik dari orientalis, sufi, filsuf, dan tokoh psikolog. Yang saya kira dapat menambah kacamata wawasan pembaca.
Kelemahan Buku
Masih banyak kata atau istilah yang kurang dipahami oleh pembaca. Tentu, jika banyak istilah yang kurang dipahami, pembaca merasa kurang paham dan bahkan tak mengerti dengan pembahasan yang dibahas penulis.



Post a Comment

0 Comments